Tips and Tricks
June 2019

Balasan Meninggalkan Sholat

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.

Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"

Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat.

Lalu mereka cuba membunuh ular itu. Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."

Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?". Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :

- Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah.
- Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
- Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

Demokrasi Dalam Pandangan Syariat

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon.

Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT.

Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zalim dan memubunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.

Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam.

Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku ‘Ad-Dimokratiyah fil Islam’. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk ‘mengislamisasi’ wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri. Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa.

Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam. Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah:
Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan Sunnah.

Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

Surat Al-Baqarah : 87-90

“Dan sesungguhnyai telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh,[87].

Dan mereka berkata:"Hati kami tertutup." Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman,[88]. Dan setelah datang kepada mereka al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu,[89].

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan[90].” {Q,.s.al-Baqarah:87-90}


MAKNA AYAT SECARA GLOBAL

Redaksi ayat masih berbicara tentang nikmat Allah atas Bani Israil, aib-aib mereka dan penjelasan tentang kekurang-kekurangan mereka, semoga saja dengan menyinggung hal itu dapat mendorong mereka untuk bersyukur lantas beriman. Semoga saja dengan menyinggung perihal kekurangan-kekurangan tersebut dapat mendorong mereka pula untuk memperbaiki diri dan bertaubat lantas segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Pada ayat 87, Allah Ta’ala menyinggung karunia-Nya, yaitu menganugerahi Taurat kepada Nabi Musa dan mengutus para Rasul setelahnya, satu demi satu, menganugerahi bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Nabi ‘Isa dan menolongnya melalui Ruhul Amîn, malaikat Jibril AS. Sekalipun demikian, mereka tetap tidak mau lurus bahkan malah membunuhi para Nabi tersebut dan mendustai mereka. Karena itu, Allah mencela mereka dengan firman-Nya, “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh.”

Pada ayat 88, Allah menyinggung perihal kecongkakan mereka dan ketidakbutuhan mereka terhadap ilmu lalu Dia mementahkan klaim mereka tersebut dan membuktikan alasan itu, yaitu bahwa Allah melaknat mereka akibat kekafiran mereka, karena itu mereka tidak beriman.

Pada ayat 89, Allah Ta’ala menyinggung perihal kekafiran mereka terhadap al-Qur’an dan Nabi-Nya setelah sebelum diutusnya Nabi SAW mereka pernah mengatakan kepada bangsa Arab, “Telah dekat masa kedatangan seorang nabi, lalu kami akan beriman kepadanya dan bersamanya akan memerangi serta mengalahkan* kalian.” Namun tatkala berita yang telah mereka ketahui itu sudah datang, mereka lantas mengingkarinya. Karena itu, laknat Allah** ditimpakan ke atas mereka sebab mereka itu orang-orang yang kafir.

Sedangkan pada ayat 90, Allah menilai jelek prilaku mereka di mana mereka telah menjual diri mereka secara murahan, yaitu menjualnya dengan kekafiran. Mereka tidak beriman kepada al-Qur’an dan Nabi-Nya karena rasa iri bahwa bangsa Arab memiliki Nabi yang membawa wahyu dan Rasul yang dita’ati serta diikuti. Lalu setelah begitu lama perjalanan kesesatan yang ditempuh, mereka kembali dengan mendapatkan kemurkaan besar yang sebabnya adalah kekafiran terhadap ‘Isa dan kemurkaan besar yang sebabnya adalah kekafiran terhadap Muhammad SAW. Bersama kemurkaan ini, mereka akan mendapatkan juga azab yang menghinakan di dunia dan akhirat.

* Ini adalah makna firman-Nya maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya (ayat 89)

** Dalam ayat tersebut Allah tidak mengungkapnya dengan “Maka laknat Allah-lah atas mereka ,” tetapi mengungkapkannya dengan “Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu (orang-orang kafir) ” sebagai isyarat (sinyal) kepada sebab terjadinya laknat tersebut, yaitu kekafiran bukan kepada jenis atau etnis tertentu tetapi umum dan mencakup semua orang yang kafir (alias bukan hanya dari Bani Israil saja-red.,)

PETUNJUK AYAT

Di antara petunjuk dan pesan ayat yang didapat dari ayat-ayat di atas adalah:
  • Kewajiban terhadap nikmat yang diberikan adalah bersyukur sedangkan kewajiban terhadap dosa yang dilakukan adalah bertaubat.
  • Buruknya menolak kebenaran hanya karena ia tidak sesuai dengan hawa nafsu
  • Betapa ngerinya tindak kriminal pembunuhan dan mendustakan kebenaran
  • Akhir yang amat buruk bagi sifat menyombongkan diri terhadap ilmu dan klaim ketidakbutuhan untuk menambahnya
  • Celaan terhadap sifat dengki yang merupakan saudaranya ‘kezhaliman’ dan hasil akhir dari keduanya adalah sama-sama tidak mendapatkan (diharamkan dari sesuatu) dan kehancuran
  • Buruknya sesuatu yang dikhawatirkan akan berakibat buruk, na’udzu billahi min dzalik
SUMBER:
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-‘Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy


Surat Al-Baqarah : 79-81

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya,'Ini dari Allah,' (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan,[79].

Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.' Katakanlah,'Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.' [80].

(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka, mereka kekal di dalamnya."[81] {Q,.s.al-Baqarah:79-81}


Makna Ayat Secara Global

Rabb Ta'ala mengancam untuk menimpakan azab yang pedih kepada para penyesat dari kaum Yahudi yang telah merubah Kalâmullâh dan menulis hal-hal yang batil dengan menisbahkannya kepada Allah agar dengan itu mereka dapat mencapai tujuan-tujuan duniawi yang hina.

Dia Ta'ala mengingkari sikap berbangga-bangga mereka yang hampa bahwa mereka tidak akan pernah diazab dengan api neraka seberapapun banyaknya dosa-dosa mereka, selagi mereka berada di dalam agama Yahudi. Mereka hanya akan merasakannya selama 40 hari saja, kemudian mereka akan keluar darinya. Hal ini bisa saja terealisasi andaikata memang terbukti ada janji Allah yang pasti untuk mereka mengenai hal itu, namun mana janji itu?. Jadi, hal itu semata klaim dusta saja.

Kemudian Allah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana menetapkan hukum-Nya terhadap nasib manusia; apakah masuk neraka atau masuk surga. Yah, hukum yang demikian adil dan penuh rahmat serta jauh dari keterpengaruhan terhadap unsur keturunan dan kebangsawanan. Dia Ta'ala mengatakan, "Balâ" (Bukan seperti hal yang kalian klaim itu), yang benar bahwa ia adalah berupa dosa-dosa dan kebaikan-kebaikan, artinya barangsiapa yang berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, lalu mengotori dan mencemari jiwanya, maka yang layak untuk kekotoran dirinya itu hanyalah api neraka. Sebaliknya, barangsiapa yang beriman dan beramal shalih, lalu menyucikan dirinya dengan iman dan amal shalih, maka yang layak untuk kesucian ruh dan kebersihan jiwanya itu hanyalah surga, rumah kenikmatan. Sedangkan keturunan dan kebangsawanan serta klaim-klaim dusta sama sekali tidak ada pengaruhnya. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 79


Firman-Nya: (Maka kecelakaan yang besarlah …) : Makna kata "Wayl" dalam teks Arabnya adalah "Halâk Wa Damâr" (kebinasaan dan kehancuran)

(bagi orang-orang yang menulis al-Kitab …) : sesuai dengan apa yang dituangkan oleh hawa nafsu mereka. [Zub]

(dengan tangan mereka sendiri…) : yakni mereka mengetahui bahwa hal itu berasal dari diri mereka sendiri. [Zub]

(lalu dikatakannya, 'Ini dari Allah,' ) : Para penulis itu tidak sebatas merubah ataupun menulis apa yang telah dirubah tersebut, mereka malah menyerukan di berbagai momen bahwa 'Ini dari Allah' demi memperoleh tujuan yang sedikit dan imbalan yang hina dengan perbuatan maksiat yang mereka lakukan secara terus menerus itu. [Zub]

{(dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan }

Ayat 80

Firman-Nya: (Dan mereka berkata…): yakni orang-orang Yahudi. [Zub]

('Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.' …) : Dari Ibn 'Abbas bahwasanya orang-orang Yahudi sering mengatakan bahwa umur dunia adalah 7000 tahun dimana pada setiap seribu tahun dari hari-hari di dunia ini, satu hari di antaranya mereka berada di neraka. Ia hanyalah hitungan tujuh hari yang sangat sedikit, kemudian azab itu akan terputus. [Zub]

(Katakanlah,'Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.')

Ayat 81

Firman-Nya: {(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa…} : yakni berupa kesyirikan dan dosa-dosa besar sementara dia belum bertaubat. [Zub]

(dan ia telah diliputi oleh dosanya…) : yaitu barangsiapa yang berbuat seperti apa yang kalian perbuat dan melakukan kekufuran seperti kekufuran yang kalian lakukan hingga kekufurannya meliputi setiap kebaikan yang dilakukannya [Zub]

(mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya)

Petunjuk Ayat
Diantara petunjuk ayat diatas adalah sebagai berikut:

Peringatan keras agar tidak mengeluarkan fatwa-fatwa batil yang mengharamkan hal-hal yang dihalalkan Allah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah, semata-mata agar mencapai tujuan yang bersifat duniawi seperti untuk mendapatkan harta atau kedudukan di sisi penguasa.

Tidak ada gunanya keturunan dan kebangsawanan dan pengukuhan bahwa kebahagiaan manusia adalah seperti kesengsaraannya dimana pangkal kebahagiaan kembali kepada iman dan amal shalih sedangkan pangkal kesengsaraan kembali kepada kesyirikan dan perbuatan maksiat.

Peringatan akan bahaya dosa, baik kecil maupun besar dan upaya untuk menghapuskannya dengan taubat dan amal shalih sebelum ia meliputi dirinya lalu menghalanginya dari bertaubat kepada Allah, na'udzu billah min dzalik. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR. Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah :75-78

"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.[75].

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:"Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata:"Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti?".[76].

Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan.[77].

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. [78]"
{Q,.s.al-Baqarah:75-78}



Makna Ayat Secara Global
Allah Ta'ala mengingkari sikap kaum mukminin yang amat berambisi terhadap berimannya orang-orang Yahudi kepada Nabi dan dien mereka dan mengingatkan mereka akan sisi ketidakmungkinan terealisasinya hal itu mengingat orang-orang Yahudi tersebut, sejak dari nenek moyang hingga generasi setelah mereka sudah dikenal sebagai tukang curang dan tipu. Hal ini terlihat pada perbuatan mereka merubah ucapan dan menggantinya sebagai upaya pengaburan dan penyesatan sehingga tidak ada lagi sisi kebenaran yang ada padanya. Siapa saja yang sedemikian ini kondisinya, maka keterhindaran dirinya dari kemunafikan, dusta dan prilaku menyembunyikan kebenaran akan amat jauh sekali alias mustahil.

Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:'Kamipun telah beriman'." Padahal, apa yang mereka ucapkan ini adalah dusta, dan bila sebagian mereka berada sesama mereka, mereka mengingkari apa yang telah diucapkan mulut sebagian mereka kepada kaum Muslimin bahwa kenabian Rasulullah adalah benar dan bahwa diennya adalah benar. Mereka berkelit bahwa pengakuan seperti ini tentu akan menimbulkan protes kaum Muslimin terhadap mereka dan akan mematahkan hujjah mereka.

Subhanallah! Bagaimana bisa sedemikian rusak perasaan kaum Yahudi ini dan demikian buruk pemahaman mereka sehingga mengira bahwa apa yang mereka sembunyikan bisa juga disembunyikan terhadap Allah.

Maka, Allah Ta'ala berfirman ketika mengutuk sikap hina mereka ini (artinya), Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. Diantara kejahilan mereka terhadap kandungan Taurat dan ketidaktahuan mereka akan kebenaran, petunjuk dan nur yang ada di dalamnya, adalah sebagaimana yang diisyaratkan firman Allah (artinya), "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga." Yakni kecuali hanya sekedar membaca saja sedangkan untuk mendalami makna-makna yang konsekuensinya dapat mengenalkan mereka kepada kebenaran, beriman dan mengikutinya, maka tidak satupun jatah mereka di situ (alias mereka tidak akan mungkin melakukannya-red.,). Apa yang mereka katakan dan 'ngalor ngidul'-kan tidak lebih sekedar hipotesa dan dugaan dusta semata.

Makna Ayat Per-Penggalan

AYAT 75


Firman-Nya (artinya),

[Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu…] Yakni, Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan membenarkanmu dan memenuhi panggilanmu.? [Zub]

[padahal segolongan dari mereka mendengar…]

[firman Allah…], Yakni kitab Taurat [Zub]

[lalu mereka mengubahya…] : {Di dalam ayat tersebut diungkapkan dengan kata Yuharrifûnahu -red,.} berasal dari kata Tahrîf, maksudnya menambah beberapa lafazh di dalam taurat, menguranginya atau menggantikan sesuatu darinya dengan yang lain sehingga sesuai dengan kemauan mereka. Diantara bentuk Tahrîf yang mereka lakukan adalah mendengarkan sesuatu dari taurat lantas hal yang halal di dalamnya mereka jadikan haram atau semisal itu. Pokoknya sesuai dengan hawanafsu mereka seperti mengubah sifat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, menjatuhkan hukum hudud (ketentuan Allah yang telah ditetapkan sanksinya) dari para bangasawan mereka. [Zub]

[setelah mereka memahaminya sedang mereka mengetahui?] : Yakni setelah mereka memahaminya melalui akal mereka padahal mereka dalam kondisi mengetahui betul bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah bentuk Tahrîf yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah agar menyampaikan syari'at-syari'atnya sebagaimana adanya. Karena itu, bagaimana mereka (kaum Muslimin) mengharapkan keislaman mereka sementara demikian kondisi mereka yang sebenarnya.?[Zub]

AYAT 76

Firman-Nya (artinya),

[Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman…]: Yakni bahwa orang-orang Munafiqun dari kalangan Yahudi bila berjumpa dengan orang-orang yang beriman… [Zub]

[mereka berkata:"Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja…] : Yakni bila orang-orang yang bukan kelompok munafiqin berada di tengah orang-orang Munafiqin, maka mereka akan berkata kepada mereka seraya menegur (sebagaimana ucapan mereka berikutnya dalam ayat ini-red.,) .[Zub]

[lalu mereka berkata:"Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu…] : Yakni bahwa Dia Ta'ala telah menjatuhkan putusan untuk mengazab mereka. Hal ini terjadi karena ada beberapa orang Yahudi yang telah masuk Islam, kemudian bersikap munafiq. Mereka ini kemudian menceritakan kepada orang-orang yang beriman dari kalangan 'Arab perihal azab yang menimpa nenek-moyang mereka terdahulu. [Zub]

[supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu…] : dengan cara menunjukkan hujjah tersebut. Artinya, janganlah kamu menceritakan kepada mereka perihal azab yang telah Allah putuskan terjadi terhadap kamu sehingga nantinya hal itu menjadi hujjah bagi mereka terhadap kamu. [Zub]

[tidakkah kamu mengerti?"] : Bahaya yang akan terjadi terhadap kamu akibat menceritakan hal tersebut.? [Zub]

AYAT 77

Firman-Nya (artinya),

[Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan] : dari urusan dan ucapan mereka, bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman. Demikian pula, (Allah mengetahui) kekufuran mereka terhadap Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan pendustaan mereka terhadapnya bila mereka berada sesama mereka. [Zub]

AYAT 78

Firman-Nya (artinya),

[Dan di antara mereka ada yang buta huruf…] : Yakni dari kalangan orang-orang Yahudi ada sekolompok orang yang belum belajar menulis dan tidak bisa membaca tulisan. [Zub]

[tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka…] : berkenaan dengan kondisi mereka yang sudah diampuni karena amal-amal shalih yang mereka lakukan atau karena mereka memiliki para pendahulu yang shalih menurut keyakinan mereka.

(Terjemahan 'dongeng-dongeng bohong belaka' di dalam ayat diatas sesuai redaksi aslinya [arab] diungkapkan dengan kata Amâniy. Dalam hal ini, menurut sebuah riwayat maknanya adalah at-Tilâwah, yakni mereka tidak mengetahui apa-apa selain membaca saja tanpa memahami apa yang dibaca tersebut. [Zub]

[dan mereka hanya menduga-duga] : mereka menyengaja untuk menduga-duga hal yang mereka tidak mengetahui selain itu akibat taqlid buta yang biasa mereka lakukan. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah:

Orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling mustahil dapat menerima kebenaran dan tunduk terhadapnya.

Mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya adalah sesuatu yang amat buruk sekali.

Belum tentu setiap orang yang dapat membaca al-Qur'an, pasti memahami semua maknanya apalagi mengetahui hikmah-hikmah dan rahasia-rahasianya di balik itu. Kondisi aktual mayoritas kaum Muslimin merupakan bukti akan statement ini. Orang-orang yang hafal al-Qur'an di tengah mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui makna-maknanya apalagi orang-orang selain mereka yang tidak hafal.

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah :72-74

"Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan, [72].

Lalu Kami berfirman:"Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!". Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti,[73].

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."[74]
{Q,.s.al-Baqarah:72-74}



Makna Ayat Secara Global
Allah Ta'ala berfirman kepada orang-orang Yahudi sembari mengecam mereka, "Ingatlah tatkala salah seorang dari pendahulu kalian membunuh seorang kerabatnya agar dapat mewarisinya, lalu berseterulah masing-masing kelompok mengenai siapa pembunuhnya, masing-masingnya membantah kalau si pembunuhnya berasal dari kalangan mereka. Realitasnya, bahwa Allah pasti akan menampakkan apa yang kalian sembunyikan tersebut, demi menegakkan kebenaran dan membuat malu para pembunuh.

Lalu Dia memerintahkan kalian untuk memukulkan raga si terbunuh (korban) dengan sebagian dari anggota-anggota badan sapi betina tersebut, sehingga dia bisa hidup lagi dan memberitahukan tentang siapa pembunuhnya. Lantas kalian melaksanakan perintah tersebut, lalu Allah menghidupkan si terbunuh dan diapun memberitahukan tentang siapa pembunuhnya, lalu karenanya dia dibunuh olehnya.

Dengan kisah ini, Allah memperlihatkan kepada kalian salah satu tanda dari tanda-tanda yang menunjukkan kelemahlembutan-Nya, ilmu-Nya serta Qudrat-Nya. Seharusnya, kalian memahami ayat-ayat yang diturunkan Allah ini, lantas kalian menyempurnakan keimanan, akhlaq dan keta'atan kalian akan tetapi jangankan melakukannya bahkan hati kalian malah semakin keras dan membatu sehingga menjadi lebih keras daripada batu. Akibatnya, tidak dapat lunak, lembut dan khusyu' lagi.

Ini berbeda dengan kondisi batu itu sendiri yang diantaranya ada yang memancarkan mata air, ada yang lunak sehingga terjatuh penuh rasa takut kepada Allah. Sebagaimana pula halnya bukit Thûr yang runtuh saat Rabb Ta'ala menampakkan diri (dalam kisah Musa) dan sebagaimana bukit Uhud yang terguncang di bawah kedua kaki Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya. Kemudian, Rabb Ta'ala mengancam kalian bahwa Dia tidak pernah lengah terhadap dosa-dosa yang kalian lakukan dan akan membalas kalian dengan balasan yang maha adil, jika kalian tidak bertaubat dan kembali kepada-Nya." [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 72


Firman-Nya (artinya),
[ Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia…]

[lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu…]: yakni kalian berselisih pendapat dan berseteru (masing-masing dari mereka menolak dirinya telah melakukan tindak kriminal itu dan menuduhkannya kepada orang lain); tentang siapa si pembunuh?. [Zub]

[ Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan] : Yakni Allah akan menampakkan apa yang kalian sembunyikan diantara kalian berkenaan dengan masalah pembunuhan tersebut. [Zub]

Ayat 73

Firman-Nya (artinya),
[ Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!"…]: Yakni dengan salah satu dari anggota-anggota badan sapi betina yang mereka sembelih tersebut, lalu mereka memukulkannya, maka Allah menghidupkan si terbunuh itu kembali. [Zub]

[ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati…]: Yakni Allah menghidupkan hal tersebut, sama seperti cara menghidupkan orang-orang yang telah mati ini.

[ dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya…]: Yakni tanda-tandanya dan indikasi-indikasinya yang menunjukkan kesempurnaan Qudrat-Nya; Allah lalu menghidupkan si terbunuh tersebut dan dia pun berbicara dan berkata, "Si fulan lah yang telah membunuhku."

[agar kamu mengerti]

Ayat 74

Firman-Nya (artinya),
[ Kemudian setelah itu…]: Yakni dari setelah Allah perlihatkan kepada mereka bagaimana Dia menjadikan sapi betina itu hidup lagi dan menghidupkan si terbunuh tersebut. [Zub]

[ hatimu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi …]: Yakni kosong dari bertaubat dan tunduk kepada tanda-tanda kebesaran Allah tersebut padahal ada sesuatu yang sebenarnya justeru menuntut sikap yang berlawanan dengan kekerasan hati tersebut, yaitu adanya tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam menghidupkan si terbunuh, bagaimana dia bisa bicara dan menyebutkan siapa pembunuhnya tersebut. [Zub]

[ Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya…]: Kemudian Allah memaklumkan bagi batu dan tidak memaklumkan anak cucu Adam yang durjana. Yakni, sesungguhnya diantara batu-batu itu ada yang lebih lunak dari hati-hati kalian terhadap kebenaran yang kalian diserukan kepadanya. [Zub]

[dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas, adalah:
Kebenaran Nubuwwah Rasulullah, Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan penetapannya di hadapan orang-orang Yahudi tatkala beliau memberitahukan kepada mereka hal-hal yang pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka, yang tidak pernah diketahui oleh orang-orang selain mereka. Dan ini merupakan bentuk Iqamatul Hujjah (menegakkan hujjah) kepada mereka.

Menyingkap psikologis orang-orang Yahudi yang ternyata secara turun temurun mewariskan sifat suka merubah perintah-perintah agama, makar dan menipu.

Orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling keras hatinya hingga saat ini dimana setiap tahun mereka selalu menimpakan musibah yang mencelakakan umat manusia, sementara mereka tertawa menyaksikan hal itu.

Diantara tanda-tanda kedurjanaan adalah kekerasan hati. Hal ini seperti bunyi hadits (artinya), "Barangsiapa yang tidak mengasihi maka dia tidak akan dikasihi." (Muttafaqun 'alaih) [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 67-71

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.' Mereka berkata, 'Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?.' Musa menjawab, 'Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.' [67].

Mereka menjawab, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?.' Musa menjawab, 'sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.' [68].

Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.' Musa menjawab, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.' [69].

Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.' [70].

Musa berkata, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.' Mereka berkata, 'Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.' Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu."[71].
{Q,.s.al-Baqarah:67-71}



Makna Ayat Secara Global
Wahai Rasul Kami (Muhammad), ingatkanlah kepada orang-orang Yahudi tersebut aib lainnya dari aib-aib yang pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka yang selalu mereka banggakan tersebut, yaitu tata krama mereka yang amat jelek terhadap para Nabi mereka sehingga hal ini menjadi cercaan bagi mereka. Semoga saja dengan begitu, mereka sadar dari kesesatan yang tengah mereka lakukan lantas beriman kepadamu dan kepada petunjuk (wahyu) serta Dien al-Haq yang engkau bawa.

Ingatkanlah kepada mereka kisah seorang laki-laki yang dibunuh oleh anak saudaranya (keponakannya) karena tergesa-gesa ingin mendapatkan warisan, kemudian membuangnya ke perkampungan yang bukan daerah asalnya sebagai upaya menghapus jejak, namun manakala mereka berbeda pendapat mengenai si pembunuh, mereka berkata, "Mari kita menghadap Musa dan memintanya berdoa untuk kita kepada Rabb-nya agar menjelaskan siapa si pembunuh tersebut."

Lalu mereka menghadap kepadanya, maka beliau berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, lalu kalian pukulkan bagian dari anggota badannya ke tubuh si korban agar dia berbicara dan menjelaskan siapa orang yang telah membunuhnya." Tatkala beliau berkata demikian kepada mereka, mereka malah menimpali, "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?." Demikian, mereka lancang memberikan label 'mengejek dan bermain-main' kepada Nabi Allah. Dan ini tentu saja merupakan perbuatan dosa lagi jelek sekali.

Mereka terus bertanya kepada Musa perihal sapi tersebut dan minta persyaratannya terus diperberat, sehingga Allah pun menjadikan persyaratannya semakin berat. Hal inilah yang membuat mereka hampir saja tidak dapat melakukan penyembelihan tersebut padahal bila mereka langsung menerima sapi yang ditawarkan oleh Allah Ta'ala (melalui lisan Musa) dan menyembelihnya tentu sudah cukup (tidak perlu bersusah-payah). Akan tetapi mereka justeru mempersulit dan memperberat beban bagi diri sendiri dengan banyak persyaratan sehingga Allah pun menjadikannya semakin sulit dan berat bagi mereka. Akhirnya, mereka baru memperoleh sapi yang diminta tersebut setelah bersusah-payah dan menghabiskan energi. Setelah pemiliknya menawarkan harga yang mahal dan menjualnya kepada mereka seharga emas yang memenuhi kulit sapi tersebut. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 67


Firman-Nya (artinya):
{Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina…} : Beliau berkata kepada mereka seperti itu setelah ada salah seorang diantara mereka yang terbunuh dan tidak diketahui identitas pelakunya sehingga mereka mengadukannya kepada Musa sebagaimana akan dibahas pada 4 ayat setelah ini.

{…Mereka berkata, 'Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan? } : Di dalam ayat diungkapkan dengan kata "ejekan" maknanya adalah permainan dan ejekan/sindirian.

{…Musa menjawab, 'Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil} : yakni bagaimana mungkin aku menisbahkan suatu perintah kepada Allah padahal ia tidak pernah diperintahkan oleh-Nya?. Yang melakukan hal ini hanyalah orang Bodoh, sebab merupakan bentuk kesia-siaan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang berakal sehat. [Zub]

Ayat 68

Firman-Nya (artinya):
{ Mereka menjawab, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?…}

{…Musa menjawab, 'sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua…}

{…dan tidak muda…}

{…pertengahan antara itu…} : maknanya adalah yang pertengahan antara dua usia diatas, yaitu sapi yang telah pernah melahirkan satu atau dua anak.

{…maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu}: yakni penyegaran perintah dan sebagai kecaman atas sikap keras kepala mereka. [Zub]

Ayat 69

Firman-Nya (artinya):
{ Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya…} : Ini merupakan pengulangan terhadap bentuk sikap keras kepala mereka yang biasa mereka lakukan. [Maka Musa tidak berkata kepada mereka, "Pertanyaan seperti ini tidak perlu!." Akan tetapi justeru memaksa mereka untuk memenuhi syarat yang lain yang lebih berat, yaitu mendapatkan sapi yang memiliki kriteria seperti itu sebagai bentuk sanksi terhadap sikap keras kepala mereka tersebut].

{Musa menjawab, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning…}

{yang kuning tua warnanya…} : yaitu warna kuning yang amat kuning dan tajam alias kuning tua.

{lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya }: membuahkan rasa senang bila mereka memandangnya karena merasa takjub dan mengagumi warnanya tersebut. [Zub]

Ayat 70

Kemudian mereka tidak juga jera dari kesesatan tersebut bahkan semakin menunjukkan sikap keras kepala sembari berkata, sebagai dalam Firman-Nya (artinya):

{ Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami…} : yakni bahwa jenis sapi seperti yang disebutkan kriterianya tersebut amat samar bagi mereka karena yang memiliki kriteria pertengahan antara kuning dan kuning tua warnanya itu amat banyak. Maknanya, kami tidak mengetahui jenis sapi yang dikehendaki oleh Allah tersebut.

{ dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk } : yakni jika Dia Ta'ala memberitahukannya kepada kami. [Zub]

Ayat 71

Firman-Nya (artinya):
{ Musa berkata, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah…}

{ dan tidak pula untuk mengairi tanaman…} : yakni dia bukan termasuk binatang yang digunakan untuk mengangkut air pengairan bagi tanam-tanaman,

{ tidak bercacat…}

{ tidak ada belangnya…} : yakni sapi ini berwarna kuning polos, tidak ada belangnya satu pun

{ Mereka berkata, 'Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya…} : yakni mereka berkata, "sekarang baru kamu jelaskan kepada kami kriterianya dan hakikatnya

{ Kemudian mereka menyembelihnya…} : Yakni lalu mereka mendapatkan sapi dengan kriteria-kriteria yang diminta tersebut, lantas mereka menyembelihnya dan melaksanakan perintah yang sebenarnya masih lapang tetapi mereka sendiri yang mempersempitnya, yang sebenarnya mudah tetapi mereka sendiri yang mempersulitnya. [ ucapan mereka tersebut juga termasuk bagian dari sikap keras kepala mereka padahal sedari awal kebenaran sudah datang kepada mereka ].

{ dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu} : yakni (karena) tidak adanya sapi yang memiliki kriteria-kriteria seperti itu. Dalam riwayat yang lain ditafsirkan "Karena harganya yang terlalu mahal". Riwayat lainnya, "Karena khawatir kasus pembunuhan tersebut terbongkar."

Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Andaikata Bani Israil tidak berkata, 'dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk' ; pasti tidak akan diberi kepada mereka selama-lamanya. Dan andaikata mereka mengambil jenis sapi apa saja lalu mereka menyembelihnya, niscaya (dengan) hal itu, mereka sudah melaksanakan perintah tersebut akan tetapi mereka memperberat diri sendiri sehingga Allah pun menjadikannya semakin berat bagi mereka." [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas, adalah:
Menjelaskan kondisi kaum Nabi Musa, Bani Israil yang demikian keras kepala dan jelek akhlaqnya sehingga kaum Muslimin dapat menghindari watak seperti itu.

Keharaman membantah perintah Allah, kewajiban berserah-diri kepada perintah atau larangan-Nya sekalipun belum/tidak diketahui apa manfa'at dan alasan di balik perintah dan larangan tersebut.

Anjuran agar melakukan perkara yang mudah-mudah (ringan-ringan) dan tidak disukainya sikap Tasyaddud (memberat-beratkan) di dalam semua perkara.

Menjelaskan faedah al-Istitsnâ` (pengecualian) dengan ucapan Insya Allah . Sebab, andaikata orang-orang Yahudi tidak mengucapkan ucapan ini (seperti dalam ayat diatas) niscaya mereka tidak akan mendapatkan hidayah/petunjuk di dalam mengetahui kriteria sapi yang dicari.

Hendaknya menghindari ucapan-ucapan yang dapat dipahami sebagai pelecehan terhadap para Nabi, seperti ucapan mereka ''Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Sebab hal ini dapat dipahami bahwa al-Haq tidak pernah datang kepada para Nabi tersebut kecuali kali ini saja dari sejak sekian lama -na'udzu billâhi min dzâlik-. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 63-66

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): 'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa',[63].

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi,[64].

Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka:'Jadilah kamu kera yang hina',[65].

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”.[66].
{Q,.s.al-Baqarah/02:63-66}



Makna Ayat Secra Global
Al-Haq 'Azza Wa Jalla mengingatkan orang-orang Yahudi akan kejadian-kejadian yang pernah menimpa para pendahulu mereka semoga saja dengan begitu mereka mau mengambil pelajaran; Dia Ta'ala memulai dengan mengingatkan kejadian perihal keengganan mereka mengamalkan kitab Taurat dan kengototan mereka terhadap hal tersebut hingga Allah mengangkat gunung (Thursina) ke atas mereka lalu jadilah ia seperti bayang-bayang diatas kepala-kepala mereka. Ketika itulah, mereka baru mau mendengar, hanya saja setelah itu mereka kembali lagi ke kondisi semula dan tidak menepati komitmen yang telah mereka buat. Sebagai akibatnya, mereka selayaknya pantas mendapatkan kerugian andai saja bukan karena rahmat (kasih sayang) Allah terhadap mereka.

Sebagaimana, Allah juga mengingatkan mereka akan tindak kriminal yang telah dilakukan oleh sebagian para pendahulu mereka, yaitu bahwa ketika itu Allah mengharamkan atas mereka berburu pada hari Sabtu, lalu sekelompok mereka berupaya berbuat licik (merekayasa) terhadap syari'at tersebut agar dengannya mereka dapat berburu. Kemudian Allah mengazab mereka dengan merubah rupa mereka menjadi kera-kera dan menjadikan apa yang terjadi terhadap mereka mereka tersebut sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan peringatan. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 63


Firman-Nya (artinya):
{Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu ..} : ini merupakan sisa dari khithab (surat pernyataan) kepada orang-orang Yahudi. Dalam hal ini, Allah mengambil perjanjian dari mereka agar mengamalkan syari'at-Nya terhadap mereka di dalam kitab Taurat dan beriman kepada para Rasul Allah.

{dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu…}: kata 'Thur' di dalam teks asli ayat maknanya adalah nama sebuah gunung dimana Allah berbicara langsung kepada Musa. Mayoritas Ahli Tafsir menyebutkan bahwa tatkala Musa datang kepada Bani Israil dengan membawa Luh-luh (kepingan dari batu atau kayu) yang tertulis padanya isi Taurat, beliau berkata kepada mereka: “Ambillah ia dan komitmenlah dengannya”. Mereka berkata: “Tidak, kecuali Allah berbicara dengan hal itu kepada kami sebagaimana Dia telah berbicara kepadamu”. Maka Allah memerintahkan para malaikat untuk mencabut salah satu bukit dari bukit-bukit yang ada di Palestian, panjangnya satu Farsakh sepertinya.

Demikian pula, kamp yang mereka tempati dibuat menjadi seperti bayang-bayang, lalu dikatakanlah kepada mereka:

{(seraya Kami berfirman): 'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu…} : makna kata 'Bi Quwwah' dalam teks asli/Arab ayat ini adalah “dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian”, kalian harus menepati perjanjian dan jangan disia-siakan sebab bila tidak, bukit/gunung akan dijatuhkan ke atas kalian, maka bersujudlah mereka sebagai ungkapan taubat kepada Allah dan mengambil taurat dengan perjanjian. Sedangkan maksud firman-Nya (artinya): { dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya}: hendaknya dihafal dan dijaga oleh mereka sehingga mereka mengetahui dan mengamalkannya. [Zub]

{ agar kamu bertaqwa'”}

Ayat 64

Firman-Nya (artinya):
{Kemudian kamu berpaling…} : yang dimaksud disini adalah perpaling dari perjanjian yang telah diambil dari mereka { setelah (adanya perjanjian) itu } yakni, setelah diangkatnya bukit tersebut diatas kepala-kepala mereka seakan bayang-bayang diatas mereka. [Zub]

{maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu…} : yaitu (jika tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu) dengan menganugerahi kamu dengan keMahalemahlembutan-Nya dan ke-Mahakasihsayang-Nya hingga kamu menampakkan pertobatan. [Zub]

{ niscaya kamu tergolong orang yang rugi } : niscaya kalian telah merugi. [Zub]

Ayat 65

Firman-Nya (artinya):
{ Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu …} : mereka adalah orang-orang Yahudi Aylah. Orang-orang Yahudi dahulu diperintahkan untuk beristirahat pada hari Sabtu dan tidak boleh melakukan aktifitas namun mereka berbuat licik (merekayasa) bagaimana bisa berburu dengan memancing ikan-ikan hiu di sana. Kisah tentang mereka ini akan dibicarakan pada surat al-A'raf secara rinci dan luas dari ayat 162-166. [Zub]

{lalu Kami berfirman kepada mereka:'Jadilah kamu kera yang hina'} : yakni mereka telah dirubah rupa menjadi kera-kera disertai pengusiran dan kehinaan. [Zub]

Ayat 66

Firman-Nya (artinya):
{ Maka Kami jadikan yang demikian itu..} : yakni perkampungan dimana terjadi hal ini, yaitu Aylah. [Zub]

{peringatan…} :peringatan dan sanksi/siksaan. [Zub]

{ bagi orang-orang di masa itu …} : di depan perkampungan tersebut. [Zub]

{dan bagi mereka yang datang kemudian…} : di belakang perkampungan tersebut. [Zub]

{ serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa } : yang datang setelah mereka hingga Hari Kiamat. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas, adalah:
Kewajiban menepati janji dan perjanjian.

Kewajiban menjalankan hukum-hukum syari'at secara tegas, mengingatnya serta melupakannya atau berpura-pura melupakannya.

Ketaqwaan tidak akan sempurna dari seorang hamba kecuali bila menjalankan syari'at secara tegas dan penuh tekad.

Keharaman berbuat licik demi melanggar sesuatu yang diharamkan sehingga menjadi boleh dan betapa buruknya kesudahan bagi para pengibul yang melampaui batas. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 60-61

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman:"Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan,[60].

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata:"Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”,[61].
{Q,.s.al-Baqarah/02:60-61}



Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala mengingatkan orang-orang Yahudi yang hidup pada saat turunnya al-Qur’an di Madinah akan azab dan hari-hari-Nya terhadap para pendahulu mereka.

Pada ayat pertama, (60), Dia Ta’ala mengingatkan tatkala mereka kehausan di padang at-Tîh, Nabi Musa memohon air kepada Rabb-nya. Lalu Dia menurunkannya melalui perkara yang di luar kebiasaan. Hal ini sebagai tanda kebesaran-Nya sehingga mereka dapat komitmen untuk beriman dan ta’at. Perkara yang di luarr kebiasaan itu adalah terpancarnya air dari batu setelah dipukul oleh Nabi Musa dengan tongkatnya. Dari batu itu, memancar air dari dua belas tempat/lubang, yang masing-masingnya berupa sumber air yang dapat diminum oleh setiap suku (as-Sibth) dari kedua belas suku tersebut sehingga mereka tidak berdesak-desakan dan mendapatkan bahaya. Dengan nikmat ini, Allah telah memuliakan mereka. Di samping itu, mereka juga dilarang berbuat kerusakan di muka bumi yang berupa perbuatan-perbuatan maksiat.

Dalam ayat kedua, (61), Dia Ta’ala mengingatkan mereka akan akhlaq buruk para pendahulu mereka yang diantaranya adalah tidak sabar, keras kepala, tidak pandai mengatur diri, tidak balas budi terhadap kebaikan, suka merubah lafazh-lafazh dari firman Allah dan lain sebagainya. Hal seperti ini tampak jelas di dalam beberapa hal:

Ucapan mereka: “Hai Musa! Gantilah!”…”Hai Nabi Allah atau Rasulullah! Kami tidak akan bersabar dengan satu macam makanan saja!”.

Ucapan mereka: “Mintalah kepada Rabb-mu untuk kami” padahal seharusnya mereka mengucapkan dengan “Mintalah kepada Allah Ta’ala untuk kami” atau “Mintalah kepada Rabb Ta’ala untuk kami”.

Kebosanan mereka terhadap daging dan madu dan meminta bawang putih dan bawang merah sebagai gantinya. Ucapan Nabi Musa terhadap mereka di dalam ayat: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik”, merupakan indikasi dari hal itu. Sebagaimana Dia Ta’ala juga mengingatkan mereka akan akibat yang pahit yang akan mereka rasakan karena kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para Nabi, perbuatan yang melampaui batas dan pembangkangan mereka. Hal itu semua akan menyebabkan mereka dihinakan dan dimurkai oleh Allah Ta’ala.

Semua hal tersebut, ditambah yang lainnya adalah termasuk ke dalam hal yang telah Allah ingatkan kepada orang-orang Yahudi agar mereka mau menjadikannya pelajaran dan bersyukur lantas beriman kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam serta masuk ke dalam Dien-Nya. Bila demikian, maka hidup mereka akan menjadi sempurna dan akan berbahagia setelah diselamatkan dari kehinaan dan kemurkaan di dunia dan azab neraka pada hari Kiamat kelak. [Ays]

MAKNA AYAT PER-PENGGALAN

Ayat 60:


Firman-Nya (artinya):
[Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya…]: Dalam ayat ini digunakan kata ‘al-Istisqa` ‘ yang di dalam tata bahasa ‘Arab hanya dipakai untuk kondisi tidak mendapatkan air dan hujan tidak turun. Dalam hal ini, Musa memohon air (kepada Rabb) untuk mereka ketika mereka berada di padang at-Tîh. [Zub]

[lalu Kami berfirman:"Pukullah batu itu dengan tongkatmu…] : yakni lalu dia memukul batu tersebut dengan tongkatnya. [Zub]

[Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air…] : ini merupakan tanda kebesaran Allah Ta’ala dimana Dia mengeluarkan air tersebut dari batu yang besar. Ia juga merupakan nikmat Allah terhadap mereka di saat mereka tidak mendapatkan mata air. Batu besar itu berbentuk persegi empat, dari setiap sisinya keluar tiga mata air. Jika Musa memukulnya, maka mengalirlah airnya dan bila mereka sudah tidak menginginkan air lagi maka ia pun mengering. [Zub]

[Sungguh tiap-tiap suku mengetahui…]

[tempat minumnya (masing-masing)…] : Pada ayat ini digunakan kata ‘Masyrab’ yang artinya ‘Mawdli’ asy-Syurb’ (tempat minum). Ada riwayat yang mengatakan: Masing-masing suku (as-Sibth) ini dulu memiliki satu mata air secara sendiri-sendiri dari sekian mata air itu, sehingga tidak sampai ada datang ke tempat yang lainnya. Para Asbâth itu adalah keturunan dari kedua belas orang anak Nabi Ya’qub 'alaihissalâm. [Zub]

[Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah] : yakni kami katakan kepada mereka makanlah Manna dan Salwa dan minumlah air yang terpancar dari batu tersebut. [Zub]

[dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan] : yakni janganlah banyak berbuat kerusakan di sana. [Zub]

Ayat 61:

Firman-Nya (artinya):
[Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa…]

[kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja...] : Ini adalah luapan kebosanan mereka terhadap kondisi yang mereka alami. Kondisi dimana penuh dengan nikmat, rizki yang baik-baik serta hidup yang serba enak. Sebaliknya menyingkap keinginan mereka untuk kembali kepada kehidupan kasar yang sudah terbiasa mereka lakukan. Karena itu, mereka berkata: ‘Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu makanan saja’, yakni karena hanya dua jenis makanan itu saja (manna dan salwa) yang dimakan setiap harinya dan tidak ada lagi makanan selain itu dan tidak diganti-ganti. [Zub]

[Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang..] [ditumbuhkan…] : yakni dikeluarkan. [Zub]

[bumi…]

[yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya…] : kata ‘al-Baql’ (sayur-mayur) maknanya: setiap tumbuhan yang tidak memiliki batang/dahan sedangkan lawannya, kata ‘asy-Syajar’ (pohon) adalah yang memiliki batang/dahan. Yang dimaksud di dalam ayat ini adalah sayur-mayur yang dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan kata ‘al-Fûm’ maknanya bermacam-macam; ada yang mengatakan: ‘ats-Tsaum” (bawang putih), ada yang mengatakan: ‘al-Hinthah’ (gandum). [Zub]

[Musa berkata:"Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik…] : yakni apakah kalian menempatkan posisi semua tetumbuhan dan sayur mayur ini sebagai ganti posisi al-Mann dan as-Salwa yang keduanya ini adalah lebih baik dari itu semua. Padahal dari sisi rasa, keduanya adalah lebih enak, disamping kelebihan lainnya bahwa keduanya berasal dari sisi Allah tanpa perantaraan makhluq manapun, tidak diragukan lagi kehalalannya dan di dalam mendapatkannya tidak perlu memporsir tenaga dan bersusah-susah. [Zub]

[Pergilah kamu ke suatu kota…] : Musa mengizinkan mereka untuk memasuki suatu kota. Ada pendapat yang mengatakan bahwa perintah ini hanya untuk menunjukkan ketidakmampuan mereka, bukan suatu kewajiban. [Zub]

[pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta…]: yakni kamu akan mendapatkan disana sayur-mayur, bawang putih dan lainnya akan tetapi disertai dengan kondisi yang dapat menyebabkan mereka disembelih, takut dan mendapatkankehinaan. [Zub]

[Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan…] : diantaranya, kehinaan saat harus membayar upeti dan bercerai-berainya mereka di muka bumi. [Zub]

[serta mereka mendapat…] : kata asalnya ‘Bâ-`û ‘ , maksudnya ‘raja’û’ (mereka kembali) dengan mendapat… [Zub]

[kemurkaan dari Allah…] : mereka menjadi pantas untuk mendapatkan kemurkaan-Nya. [Zub]

[Hal itu (terjadi) …] : yakni kehinaan dan nasib selanjutnya yang telah disebutkan diatas sebab terjadinya hanya akibat kekufuran mereka kepada Allah dan tindakan mereka membunuh para Nabi-Nya sebagaimana diantara mereka telah melakukannya terhadap Nabi Syu’aib, Zakaria dan Yahya. Mereka membunuh mereka padahal mereka menyadari dan meyakini bahwa dengan perbuatan membunuh itu mereka adalah zhalim. (mereka juga ingin membunuh Nabi ‘Isa 'alaihissalâm namun Allah mengangkatnya ke langit dan sehingga selamat dari makar mereka). [Zub]

[karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas].

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk dari kedua ayat tersebut adalah:
Memberikan peringatan dan mengingatkan akan nikmat-nikmat Allah Ta’ala serta azab yang akan ditimpakan kepada umat manusia adalah sesuatu yang positif.

Orang yang mendapatkan nikmat dituntut untuk mensyukurinya, yaitu dengan cara berbuat ta’at kepada Allah Ta’ala dan menjalankan semua perintah-Nya serta meninggalkan semua larangan-Nya.

Celaan terhadap akhlaq yang keji dan pelakunya dimaksudkan agar menjadi pelajaran.

Celaan terhadap dosa-dosa besar seperti kekufuran, membunuh jiwa dengan cara yang tidak haq, apalagi membunuh para Nabi atau para khalifah mereka, yaitu para ulama yang mengajak berbuat adil di tengah umat. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 58-59

“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah:"Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. (58).

Lalu orang-orang yang berbuat zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik (59)”.
{Q,.s.al-Baqarah/02:58-59}



Makna Ayat Secara Global

Kandungan ayat pertama (58) mengingatkan orang-orang Yahudi akan peristiwa besar yang terjadi terhadap para leluhur mereka. Peristiwa itu, menyingkap betapa besar nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada Bani Israil, yaitu suatu kondisi yang mengharuskan mereka untuk bersyukur sebab manakala masa at-Tîh sudah berakhir sedangkan masing-masing dari Nabi Musa dan Harun sudah meninggal duniam, lalu yang menggantikan posisi keduanya adalah seorang pemuda Musa Yusya’ bin Nûn, kemudian pemuda ini mengajak mereka menyerang kerajaan al-‘Amâliqah dan Allah memberikan kemenangan kepada mereka sehingga berhasil menaklukkan negeri Quds, maka Allah memerintahkan kepada mereka dengan perintah pemuliaan dan anugerah seraya memfirmankan (maknanya):

"Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai dan bersyukurlah kepada-Ku atas nikmat ini, yaitu dengan memasuki pintu gerbang kota dalam kondisi ruku’, tenang dan mengucapkan: ‘kami memasuki pintu gerbang dengan bersujud supaya terbebas dari segala dosa yang telah kami perbuat akibat keengganan kami di dalam berjihad pada masa Musa dan Harun’. Bila hal itu kamu lakukan, maka Kami akan memberikan pahala kepada kamu dengan cara mengampuni semua dosa kamu dan menambah pahala bagi orang-orang yang berbuat baik diantara kamu”.

Sedangkan ayat kedua (59) mengandung peristiwa lainnya yang menyingkap hakikat dari kebusukan perangai orang-orang Yahudi dan banyaknya mereka melakukan ru’ûnah, yaitu tindakan merubah perbuatan yang diperintahkan atau ucapan yang diwahyukan sehingga akhirnya mereka memasuki pintu gerbang tersebut dengan merangkak diatas ‘bokong’ mereka seraya berseru: ‘habbah fî sya’rah (sebiji dari gandum)’ *.

Oleh karena itulah, Allah mendendam dari mereka dengan menurunkan penyakit Tha’un kepada orang-orang yang berbuat zhalim diantara mereka sehingga banyak sekali yang binasa. Hal itu semua sebagai balasan atas kefasikan mereka terhadap perintah Allah ‘Azza Wa Jalla. Seharusnya, apa yang telah dijelaskan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang Yahudi (dari masa Nabi hingga kini) andaikata mereka mau menghayatinya. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

AYAT 58


Firman Allah Ta’ala (artinya):
{Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu…}

{ ke negeri ini…} : maksudnya adalah Baitul Maqdis [Zub]

{dan makanlah dari hasil buminya…}

{yang banyak lagi enak (raghadan)…} : makna kata ‘raghadan’ adalah ‘katsîran wâsi’an’ [Zub]

{di mana yang kamu sukai…}

{dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud…} : pintu gerbang yang diperintahkan untuk dimasuki oleh mereka adalah pintu gerbang Baitul Maqdis. Dan kata ‘as-Sujûd’ maknanya adalah ‘al-Inhinâ’ ‘ (merunduk). Pendapat lain mengatakan: ‘at-Tawâdlu’ wa al-Khudlû’ ‘ (tawadlu’/merendahkan diri dan tunduk) [Zub]

{dan katakanlah..}

{"Bebaskanlah kami dari dosa"…} : diungkapkan dengan kata ‘Hiththah’ , yakni Allah Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan sesuatu yang mengandung arti taubat -dan ketundukan kepada-Nya sebagai pengakuan terhadap anugerah-Nya atas mereka di dalam memudahkan penaklukan kota tersebut- [Zub].

{niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu…}

{Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik} : dari kalangan kamu sebagai anugerah dari kami dan ihsan (sebagai balasan baik) terhadap perbuatan baik mereka terdahulu [Zub].

AYAT 59

Firman-Nya (artinya):
{Lalu orang-orang yang berbuat zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka…} : Imam al-Bukhary dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Diperintahkan kepada Bani Israil: ‘masukilah pintu gerbang dengan bersujud dan katakanlah ‘hiththah’ lalu mereka menggantinya, maka mereka memasuki (pintu gerbang kota tersebut) dengan merangkak diatas ‘bokong’ mereka sembari berkata: ‘habbah fi sya’rah’ (sebiji dari gandum)” **. [Zub]

{Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik}

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk dari dua ayat diatas adalah:

Mengingatkan kepada anak cucu akan masa-masa yang telah dilalui oleh nenek moyang mereka dan hasil jerih payah yang mereka lakukan selama itu dari sisi positifnya, yaitu berupa amalan ta’at kepada-Nya ataupun dari sisi negatifnya, yaitu berupa kemaksiatan terhadap-Nya.

Bila jihad sudah menjadi wajib (‘ain) hukumnya, maka berpangku tangan dan meninggalkannya akan menyebabkan umat terhina dan merugi

Perlunya berhati-hati terhadap implikasi dari perbuatan zhalim, fasiq dan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala Haram hukumnya mena’wil nash-nash syari’at sehingga menyimpang dari maksud yang sebenarnya dari pemilik syari’atnya, yaitu Allah Ta’ala

Keutamaan ihsan *** di dalam ucapan dan perbuatan. [Ays]

* Ucapan ‘habbah fi sya’rah’ tersebut sebagai makna dari kata ‘Hinthah’ padahal yang diperintahkan kepada mereka adalah mengucapkan ‘Hiththah’ (huruf ‘Nûn’ diganti dengan huruf ‘tha’ ‘) yang artinya ‘bebaskanlah kami dari dosa’…Inilah diantara prilaku mereka yang suka mengotak-atik atau menggonta-ganti sesuatu yang diperintahkan kepada mereka..wallahu a’lam –red

** Ibid

*** Seorang yang berbuat ihsan (Muhsin) adalah orang yang ‘aqidahnya shahih, mengatur dirinya dengan baik, selalu bersemangat di dalam melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya serta dapat menghindarkan kaum Muslimin dari kejahatannya. Demikian diantara definisi yang diberikan oleh sebagian ulama.


Definisi yang lebih mendekati lagi, bahwa ‘al-Muhsin’ adalah orang yang selalu menjadikan niat, keyakinan, ucapan dan perbuatannya dibawah muraqabah (pengawasan) Allah selalu sehingga dia melakukan semuanya dengan baik, tidak salah di dalam hal itu, berbuat ma’ruf kepada semua orang serta tidak pernah menyakiti mereka. Cukuplah perbuatan ihsan sebagai suatu keutamaan manakala Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan (Muhsinin). Bila seseorang yang dicintai oleh Allah, maka Dia akan membuatnya bahagia dan tidak akan menyengsarakannya. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 54-57

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:"Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang [54],

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya [55],

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur [56],

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri [57]”.
(Q,.s.al-Baqarah/02: 54-57)



Korelasi Ayat

Manakala Allah Ta’ala mengingatkan kepada orang-orang Yahudi akan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada para pendahulu mereka dan meminta mereka agar mensyukurinya sehingga dengan itu mereka beriman kepada Rasul-Nya, maka disini, Dia Ta’ala mengingatkan kepada mereka sebagian dosa-dosa yang dilakukan oleh para pendahulu mereka tersebut agar menjadi pelajaran sehingga mereka dapat beriman karenanya.

Makna Ayat Secara Global

Dalam ayat diatas, Allah mengingatkan kepada orang-orang Yahudi tentang peristiwa dimana ketika itu mereka menjadikan anak lembu buatan sebagai Tuhan yang disembah. Hal ini dilakukan setelah mereka diselamatkan dari kejaran bala tentara Fir’aun sedangkan Nabi Musa tengah bermunajat kepada Allah Ta’ala. Yang tinggal bersama mereka hanya Harun yang diminta oleh Musa untuk menjadi penggantinya selama kepergiannya.

Ketika itulah, as-Samiry menciptakan anak lembu yang terbuat dari bahan emas, lalu berkata kepada mereka: “Inilah Tuhan kalian dan Tuhan Musa, sembahlah ia”. Maka, sebagian mereka mau mena’ati ucapannya dan menyembah anak lembu buatan tersebut. Maka, merekapun telah murtad dari dien Nabi Musa.

Lalu Allah menjadikan taubat mereka dari perbuatan murtad tersebut dengan cara saling membunuh, yaitu orang yang belum menyembah anak lembu buatan tersebut harus membunuh orang-orang yang telah menyembahnya sehingga terbunuhlah sebanyak 70.000 orang. Itulah bentuk taubat mereka dan Allah telah menerimanya karena Dia Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.

Allah Ta’ala juga mengingatkan kepada mereka tentang peristiwa lainnya, yaitu bahwa manakala mereka menyembah anak lembu buatan tersebut yang dikategorikan sebagai perbuatan murtad; maka, sesuai dengan perintah Allah, Musa memilih 70 orang laki-laki pilihan dari mereka yang belum terlibat dalam dosa penyembahan tersebut. Musa membawa mereka ke Jabal ath-Thûr (Bukit Thûr) agar mereka memohon ampunan kepada Allah atas perbuatan saudara-saudara mereka yang telah menyembah anak lembu buatan tersebut.

Namun, tatkala sampai disana, mereka berkata kepada Nabi Musa: “Mintalah kepada Rabb-mu agar memperdengarkan kepada kami Kalam-Nya. Lalu beliau memperdengarkan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tiada Tuhan (yang haq disembah) selain Aku, Aku telah mengeluarkan kalian dari bumi Mesir ini dengan Tangan yang keras; sembahlah Aku dan janganlah sembah selain-Ku”.

Tatkala Musa memberitahukan kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan taubat mereka dengan cara membunuh diri mereka sendiri, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman kepadamu -yakni tidak akan mengikuti ucapanmu yang menyebutkan bahwa taubat kami adalah dengan cara sebagian kami membunuh sebagian yang lain- hingga kami melihat Allah dengan terang”.

Ucapan mereka ini termasuk perbuatan dosa besar karena mendustakan Rasul, oleh karena itu Allah murka terhadap mereka dan menurunkan halilintar yang menyambar sehingga mereka binasa. Mereka mati satu per-satu dalam kondisi menyaksikan apa yang terjadi, lalu Allah menghidupkan mereka kembali setelah berlangsung sehari semalam. Hal ini semata agar mereka mau bersyukur kepada-Nya dengan cara beribadah hanya kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya.

Allah juga mengingatkan kepada mereka tentang nikmat-nikmat yang lain seperti menaungi mereka dengan awan dan menurunkan manna dan salwa pada saat mengalami peristiwa “Tîh” di padang sahara Sina .

Dalam firman-Nya pada ayat yang lain (artinya): “…dan tidaklah Kami menganiaya mereka…” terdapat isyarat bahwa cobaan di padang “Tîh” tersebut merupakan siksaan bagi mereka akibat perbuatan mereka yang tidak mau berjihad dan keberanian mereka membantah Nabi mereka, yaitu manakala mereka berkata (dalam firman-Nya yang artinya) : “Pergilah engkau bersama Rabbmu berperang, sesungguhnya kami hanya ingin duduk-duduk saja disini”. Memang, Dia Ta’ala tidak pernah menganiaya mereka di dalam cobaan di padang Tîh tersebut akan tetapi justeru merekalah yang telah menganiaya diri mereka sendiri. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

AYAT 54:


Firman-Nya: {“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya…”}

{"Hai kaumku…} : Panggilan ini diarahkan kepada kaum laki-laki dan perempuan di kalangan kaumnya yang menyembah anak lembu buatan, [Zub]

{sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sesembahanmu)…}

{maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu…} : yakni bertaubatlah kamu kepada Allah Yang telah menciptakan kamu karena kamu telah menyembah selain-Nya (syirik), [Zub]

{dan bunuhlah dirimu…} : dari ‘Aly (bin Abi Thalib-red), dia berkata: “Mereka berkata kepada Musa: ‘apa bentuk taubat kami?’. Dia menjawab: ‘sebagian kalian membunuh sebagian yang lainnya’, lalu mereka mengambil pisau sehingga ada seorang laki-laki yang membunuh saudaranya, bapaknya bahkan anaknya, tidak peduli siapa yang dibunuhnya sehingga terbunuhlah sebanyak 70.000 orang. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa: ‘perintahkan kepada mereka agar mengangkat tangan mereka karena siapa yang terbunuh telah diampuni dosanya dan orang-orang yang tersisa dari merekapun telah diberi taubat”. [Zub]

{Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu…}

{maka Allah akan menerima taubatmu...} : Kamu telah membunuh diri kamu sehingga Dia Ta’ala menerima taubat mereka yang tersisa dari golongan kamu, [Zub]

{Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang}

AYAT 55:

Firman-Nya: {Dan (ingatlah), ketika kamu berkata…} : Yang mengatakan ucapan ini adalah tujuhpuluh orang yang telah dipilih oleh Musa, [Zub]

{"Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah…}

{dengan terang (jahrah)…} : kata Jahrah (dengan terang), maknanya secara bahasa adalah al-Mu’âyanah (menyaksikan dengan mata telanjang), [Zub]

{karena itu kamu disambar halilintar…} : yakni api dari langit yang menyambar mereka sehingga mereka mati, [Zub]

{sedang kamu menyaksikannya} : kamu melihat hal itu secara langsung dengan mata telanjang. [Zub]

AYAT 56:

Firman-Nya: {Setelah itu Kami bangkitkan kamu…}: Menghidupkan mereka setelah mematikan. Mereka disiksa dengan sambaran halilintar tersebut karena mereka meminta sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah untuk dilihat di dunia (yakni melihat Allah/ru’yatullâh), sedangkan di akhirat kelak maka banyak sekali hadits-hadits yang mencapai derajat mutawatir bahwa para hamba-Nya akan melihat Rabb mereka di akhirat. Dan dalil ini adalah Qath’iyyah ad-Dilâlah. [Zub]

{sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur }

AYAT 57:

Firman-Nya: {Dan Kami naungi kamu dengan awan (al-Ghamâm)…}: sinonim dari kata “al-Ghamam” adalah “as-Sahâb” (keduanya bermakna) : awan. Allah menjadikannya bagi mereka seperti payung yang melindungi dari terik panas matahari ketika mereka berada di padang Tîh yang terletak diantara wilayah Mesir dan Syam. Saat itu, mereka menolak untuk memasuki Madinah al-Jabbârîn, [Zub]

{dan Kami turunkan kepadamu…}

{"manna"…} : tetesan yang turun dari langit ke atas pohon atau batu, lalu menjadi manis seperti madu dan kering seperti lilin. Dari Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam bahwa al-Kam-ah (cendawan) adalah berasal dari manna yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa, [Zub]

{dan "salwa"} : ada yang mengatakan bahwa ia adalah as-Sumânâ, yakni burung yang mereka sembelih lalu dimakan; ada lagi yang mengatakan bahwa makna salwa adalah al-‘Asal (madu), [Zub]

{Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu…}

{Dan tidaklah mereka menganiaya Kami…} : Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsiy) : “Kami lebih Mulia untuk dizhalimi”, [Zub]

{akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri}

Petunjuk Ayat

Seorang Mukmin yang menyembah selain Allah padahal dia mengetahui bahwa hal itu merupakan ibadah kepada selain-Nya maka ini dianggap sebagai bentuk riddah (murtad) dan kesyirikan. Dikatakan riddah karena Allah telah memerintahkan Bani Israil agar orang yang belum menyembah anak lembu buatan membunuh orang yang telah menyembahnya karena mereka dihukumi sebagai murtad. Hukum orang yang murtad berdasarkan hadits yang shahih adalah dibunuh. Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia”.

Disyari’atkannya memerangi orang-orang yang murtad. Di dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia” akan tetapi hal ini setelah dimintakan kepadanya untuk bertaubat terlebih dahulu.

Alasan hidup secara keseluruhannya adalah untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan cara beribadah hanya kepada-Nya. Hal ini diperkuat oleh firman-Nya “Tsumma Ba’atsnâkum” yakni kemudian kami hidupkan kamu setelah mati agar kamu bersyukur. Ayat yang lebih tegas lagi adalah firman-Nya (artinya): “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” ; dan ibadah itu sendiri adalah kesyukuran.

Yang halal, baik berupa makanan, minuman atau lainnya adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 49-53

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu.[49],

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.[50],

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. [51],

Kemudian sesudah itu Kami ma'afkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.[52],

Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kau mendapat petunjuk [53]”.
(Q,.s.al-Baqarah/02: 49-53)



Makna Ayat Secara Global

Kelima ayat tersebut mengandung empat nikmat besar yang dianugerahkan oleh Allah kepada Bani Israil. Nikmat-nikmat tersebutlah yang diperintahkan kepada mereka untuk diingat sehingga mereka dapat bersyukur kepada-Nya, yaitu dengan beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam dan dien-Nya, al-Islam.

Nikmat Pertama adalah nikmat tatkala Allah menyelamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan tentaranya sehingga mereka lolos dari kekuasaannya yang zhalim dan dari beraneka ragam siksaan yang ditimpakan kepada mereka. Diantara bentuk siksaan tersebut; menyembelih bayi-bayi yang lahir dari jenis kelamin laki-laki dan membiarkan kaum wanita menjadi pelayan mereka di rumah layaknya sebagai para budak wanita.

Nikmat Kedua adalah terbelahnya laut untuk mereka dan tenggelamnya musuh mereka disana setelah mereka berhasil lolos serta dapat melihat kejadiannya secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri.

Nikmat Ketiga adalah nikmat Allah Ta’ala mema’afkan perbuatan mereka yang dianggap sebagai kesalahan fatal dan tindakan kejahatan. Tindakan tersebut adalah menjadikan anak lembu buatan sebagai Tuhan dan sesembahan mereka. Allah Ta’ala mema’afkan mereka dan tidak menyiksa mereka dengan azab-Nya karenanya dengan alasan agar mereka mau bersyukur kepada-Nya. Bentuk rasa syukur itu adalah dengan beribadah hanya kepada-Nya semata.

Nikmat Keempat adalah Allah memuliakan Nabi Musa 'alaihissalâm dengan menurunkan kepadanya kitab Taurat yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya serta mukjizat-mukjizat yang dengannya kebatilan Fir’aun dapat dikalahkan dan dimenangkannya dakwah al-Haq yang dibawa oleh Nabi Musa 'alaihissalâm.

Itulah nikmat-nikmat yang terkandung di dalam kelima ayat diatas dimana mengetahuinya berarti mengetahui arti dari ayat-ayat tersebut secara global kecuali pada kalimat (artinya) ‘Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu’ dalam ayat pertamanya (ayat 49). Kalimat ini memberitakan bahwa siksaan yang dilakukan Fir’aun dan orang-orang sepertinya terhadap Bani Israil merupakan cobaan dari Allah dan ujian besar bagi mereka. Demikian pula dengan ayat ketiganya (ayat 51), disana terdapat janji Allah kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat yang dengannya dia memerintah** Bani Israil setelah diselamatkannya * mereka selama 40 malam pada bulan Dzulqa’dah dan sepuluh Dzulhijjah, Namun tatkala beliau sedang tidak berada di tempat, as-Samiry mengumpulkan seluruh perhiasan wanita Bani Israil dan menciptakan anak lembu buatan dari olahan bahan tersebut, lalu mengajak mereka untuk menyembahnya. Mereka pun akhirnya menyembahnya sehingga -sebenarnya- mereka berhak untuk mendapatkan ‘azab karena perbuatan tersebut namun Allah mema’afkan mereka agar mereka mau bersyukur kepada-Nya. [Ays]

Makna Ayat Per-penggalan

Ayat 49:


{ “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu …} : di dalam ayat tersebut kata ‘Najjaynâ’ (Kami selamatkan) adalah sama maknanya dengan kata ‘Anjayna’. [Zub]

{dari (Fir'aun)…} : kata ‘Fir’aun’ memiliki beberapa pengertian; ada yang mengatakan bahwa ia adalah nama raja ketika itu (bukan gelar atau sebutan-red). Ada lagi yang mengatakan bahwa ia adalah nama untuk setiap raja yang menguasai Mesir kuno (sebagai julukan atau sebutan-red). [Zub]

{dan pengikut-pengikutnya}

{mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya…}: menyiksa kamu sehingga merasakan ‘azab yang sangat berat. Penjelasan tentang spesifikasi ‘azab tersebut ada pada lanjutan ayat setelahnya… [Zub]

{mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan...}: dengan membiarkan kaum wanita tersebut hidup supaya dapat melayani mereka dan dilecehkan. Sedangkan perintah menyembelih anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak wanita karena memiliki para peramal dimana mereka ini memberitahu Fir’aun perihal akan lahirnya seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan menyebabkan dirinya binasa di tangannya. [Zub]

{Dan pada yang demikian itu…}: yaitu kejahatan yang telah disebutkan serta kebaikan yang Allah berikan kepada mereka. [Zub]

{terdapat cobaan-cobaan yang besar…} : di dalam ayat tersebut arti kata Balâ’ adalah ikhtibâr (ujian/cobaan). [Zub]

{dari Rabb-mu} : untuk mengetahui seberapa jauh kamu melakukan kewajiban bersyukur, ta’at dan beriman kepada Rasul-Nya. [Zub]

Ayat 50:

{Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu…}: Kami belah untuk kamu sehingga menjadi kering airnya dan kamu dapat berjalan diatasnya. Sedangkan laut yang dimaksud adalah laut al-Qalzam yang terletak di terusan Suez . [Zub]

{lalu Kami selamatkan kamu…}: dari ketenggelaman

{dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya…}: Kata Âli Fir’aun di dalam ayat tersebut maknanya adalah Atbâ’ (pengikut-pengikut). [Zub]

{sedang kamu sendiri menyaksikan}: mereka melihat ke arah diri mereka sendiri dalam kondisi selamat dan melihat ke arah pengikut-pengikut Fir’aun dalam kondisi tenggelam. [Zub]

Ayat 51:

{Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah)…}: Janji tersebut berasal dari Allah sedangkan Musa hanyalah menerima. [Zub]

{empat puluh malam…}: Allah Ta’ala menjanjikannya setelah itu agar dia datang ke bukit Thûr sehingga Dia Ta’ala berbicara dengannya dan memberinya wahyu. [Zub]

{lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim}: yakni kamu jadikan anak lembu sebagai sesembahan setelah Musa pergi ke bukit Thûr. [Zub]

Ayat 52:

{Kemudian sesudah itu Kami ma'afkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur}: yakni sesudah kamu menyembah anak lembu tersebut, Kami berkenan memberikan ma’af atas dosa besar yang kamu perbuat. [Zub]

Ayat 53:

{Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa…}

{Al-Kitab…}: yakni taurat

{dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah (al-Furqân) agar kau mendapat petunjuk}: Ada yang mengatakan maknanya adalah al-Hujjah dan al-Bayân (penjelasan) dengan tanda-tanda yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa berupa tongkat, tangan dan lain-lain. [Zub]

PETUNJUK AYAT

Penyebutan berbagai nikmat mendorong*** seseorang untuk mensyukurinya sebab syukur adalah target utama dari penyebutan suatu nikmat.

Bahwa Allah Ta’ala ketika menguji para hamba-Nya karena ada hikmah agung di balik itu sehingga tidak boleh menentang dan memprotes kepada Allah Ta’ala atas perbuat-Nya menguji para hamba-Nya tersebut.

Syirik merupakan suatu bentuk kezhaliman**** karena definisinya adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Diantara hikmah di balik diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah untuk memberikan petunjuk kepada manusia sehingga mengenal Rabb mereka dan sebagai cara mendekatkan diri kepada-Nya di dalam ibadah mereka kepada-Nya. Dengan begitu, mereka akan menjadi sempurna dan berbahagia di dalam dunia alam kehidupan.

Catatan:
Syaikh Abu Bakar al-Jazâiry berkata: “ Hari diselamatkannya Bani Israil terjadi pada tanggal 10 Muharram sebagaimana yang disebutkan di dalam shahih Bukhary dan selainnya bahwa Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam tatkala datang ke Madinah dalam rangka hijrah, beliau mendapatkan kaum Yahudi berpuasa pada hari tanggal 10 Muharram (‘Asyura’) tersebut. Lantas beliau bertanya kepada mereka tentang hal itu. Mereka menjawab: ‘ yaitu hari yang baik dimana Allah menyelamatkan Bani Israil’. Maka, beliau pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (kepada umatnya) agar berpuasa juga pada hari itu dengan sabdanya: ‘Kita lebih berhak untuk meneladani Nabi Musa ketimbang mereka’ “. [Ays]

Syaikh Abu Bakar al-Jazâiry berkata: “Diantara hal yang sangat disayangkan dan menyedihkan adalah kondisi kaum Muslimin yang diberi cobaan oleh Allah, berupa penjajahan yang dilakukan oleh kaum Nasrani terhadap mereka. Setiap suatu penduduk atau negeri dari kaum Muslimin yang merdeka, maka penduduk atau negeri ini justeru meminta diberlakukannya undang-undang kaum Kafir sehingga menjadi hukum yang mengatur kaum Muslimin. Sedangkan Bani Israil di bawah kepemimpinan Musa tidak demikian; begitu mereka merdeka maka Musa membawa kepada mereka hukum Rabb dan memerintah mereka dengannya”. [Ays]

Syaikh Abu Bakar al-Jazâiry mengomentari: “Oleh karena itu, prinsip bersyukur adalah mengakui nikmat terlebih dahulu, yaitu mengingatnya dengan hati dan lisan”. [Ays]

Yakni sebagaimana firman Allah Ta’ala (artinya) : “Sesungguhnya perbuatan syirik itu merupakan kezhaliman yang besar”

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


zain cho

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget