Tips and Tricks

Zain Cho

Latest Post

Balasan Meninggalkan Sholat

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.

Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"

Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat.

Lalu mereka cuba membunuh ular itu. Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."

Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?". Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :

- Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah.
- Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
- Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

Demokrasi Dalam Pandangan Syariat

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon.

Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT.

Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zalim dan memubunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.

Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam.

Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku ‘Ad-Dimokratiyah fil Islam’. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk ‘mengislamisasi’ wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri. Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa.

Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam. Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah:
Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan Sunnah.

Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

Surat Al-Baqarah : 87-90

“Dan sesungguhnyai telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh,[87].

Dan mereka berkata:"Hati kami tertutup." Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman,[88]. Dan setelah datang kepada mereka al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu,[89].

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan[90].” {Q,.s.al-Baqarah:87-90}


MAKNA AYAT SECARA GLOBAL

Redaksi ayat masih berbicara tentang nikmat Allah atas Bani Israil, aib-aib mereka dan penjelasan tentang kekurang-kekurangan mereka, semoga saja dengan menyinggung hal itu dapat mendorong mereka untuk bersyukur lantas beriman. Semoga saja dengan menyinggung perihal kekurangan-kekurangan tersebut dapat mendorong mereka pula untuk memperbaiki diri dan bertaubat lantas segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Pada ayat 87, Allah Ta’ala menyinggung karunia-Nya, yaitu menganugerahi Taurat kepada Nabi Musa dan mengutus para Rasul setelahnya, satu demi satu, menganugerahi bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Nabi ‘Isa dan menolongnya melalui Ruhul Amîn, malaikat Jibril AS. Sekalipun demikian, mereka tetap tidak mau lurus bahkan malah membunuhi para Nabi tersebut dan mendustai mereka. Karena itu, Allah mencela mereka dengan firman-Nya, “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh.”

Pada ayat 88, Allah menyinggung perihal kecongkakan mereka dan ketidakbutuhan mereka terhadap ilmu lalu Dia mementahkan klaim mereka tersebut dan membuktikan alasan itu, yaitu bahwa Allah melaknat mereka akibat kekafiran mereka, karena itu mereka tidak beriman.

Pada ayat 89, Allah Ta’ala menyinggung perihal kekafiran mereka terhadap al-Qur’an dan Nabi-Nya setelah sebelum diutusnya Nabi SAW mereka pernah mengatakan kepada bangsa Arab, “Telah dekat masa kedatangan seorang nabi, lalu kami akan beriman kepadanya dan bersamanya akan memerangi serta mengalahkan* kalian.” Namun tatkala berita yang telah mereka ketahui itu sudah datang, mereka lantas mengingkarinya. Karena itu, laknat Allah** ditimpakan ke atas mereka sebab mereka itu orang-orang yang kafir.

Sedangkan pada ayat 90, Allah menilai jelek prilaku mereka di mana mereka telah menjual diri mereka secara murahan, yaitu menjualnya dengan kekafiran. Mereka tidak beriman kepada al-Qur’an dan Nabi-Nya karena rasa iri bahwa bangsa Arab memiliki Nabi yang membawa wahyu dan Rasul yang dita’ati serta diikuti. Lalu setelah begitu lama perjalanan kesesatan yang ditempuh, mereka kembali dengan mendapatkan kemurkaan besar yang sebabnya adalah kekafiran terhadap ‘Isa dan kemurkaan besar yang sebabnya adalah kekafiran terhadap Muhammad SAW. Bersama kemurkaan ini, mereka akan mendapatkan juga azab yang menghinakan di dunia dan akhirat.

* Ini adalah makna firman-Nya maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya (ayat 89)

** Dalam ayat tersebut Allah tidak mengungkapnya dengan “Maka laknat Allah-lah atas mereka ,” tetapi mengungkapkannya dengan “Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu (orang-orang kafir) ” sebagai isyarat (sinyal) kepada sebab terjadinya laknat tersebut, yaitu kekafiran bukan kepada jenis atau etnis tertentu tetapi umum dan mencakup semua orang yang kafir (alias bukan hanya dari Bani Israil saja-red.,)

PETUNJUK AYAT

Di antara petunjuk dan pesan ayat yang didapat dari ayat-ayat di atas adalah:
  • Kewajiban terhadap nikmat yang diberikan adalah bersyukur sedangkan kewajiban terhadap dosa yang dilakukan adalah bertaubat.
  • Buruknya menolak kebenaran hanya karena ia tidak sesuai dengan hawa nafsu
  • Betapa ngerinya tindak kriminal pembunuhan dan mendustakan kebenaran
  • Akhir yang amat buruk bagi sifat menyombongkan diri terhadap ilmu dan klaim ketidakbutuhan untuk menambahnya
  • Celaan terhadap sifat dengki yang merupakan saudaranya ‘kezhaliman’ dan hasil akhir dari keduanya adalah sama-sama tidak mendapatkan (diharamkan dari sesuatu) dan kehancuran
  • Buruknya sesuatu yang dikhawatirkan akan berakibat buruk, na’udzu billahi min dzalik
SUMBER:
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-‘Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy


Surat Al-Baqarah : 79-81

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya,'Ini dari Allah,' (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan,[79].

Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.' Katakanlah,'Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.' [80].

(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka, mereka kekal di dalamnya."[81] {Q,.s.al-Baqarah:79-81}


Makna Ayat Secara Global

Rabb Ta'ala mengancam untuk menimpakan azab yang pedih kepada para penyesat dari kaum Yahudi yang telah merubah Kalâmullâh dan menulis hal-hal yang batil dengan menisbahkannya kepada Allah agar dengan itu mereka dapat mencapai tujuan-tujuan duniawi yang hina.

Dia Ta'ala mengingkari sikap berbangga-bangga mereka yang hampa bahwa mereka tidak akan pernah diazab dengan api neraka seberapapun banyaknya dosa-dosa mereka, selagi mereka berada di dalam agama Yahudi. Mereka hanya akan merasakannya selama 40 hari saja, kemudian mereka akan keluar darinya. Hal ini bisa saja terealisasi andaikata memang terbukti ada janji Allah yang pasti untuk mereka mengenai hal itu, namun mana janji itu?. Jadi, hal itu semata klaim dusta saja.

Kemudian Allah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana menetapkan hukum-Nya terhadap nasib manusia; apakah masuk neraka atau masuk surga. Yah, hukum yang demikian adil dan penuh rahmat serta jauh dari keterpengaruhan terhadap unsur keturunan dan kebangsawanan. Dia Ta'ala mengatakan, "Balâ" (Bukan seperti hal yang kalian klaim itu), yang benar bahwa ia adalah berupa dosa-dosa dan kebaikan-kebaikan, artinya barangsiapa yang berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, lalu mengotori dan mencemari jiwanya, maka yang layak untuk kekotoran dirinya itu hanyalah api neraka. Sebaliknya, barangsiapa yang beriman dan beramal shalih, lalu menyucikan dirinya dengan iman dan amal shalih, maka yang layak untuk kesucian ruh dan kebersihan jiwanya itu hanyalah surga, rumah kenikmatan. Sedangkan keturunan dan kebangsawanan serta klaim-klaim dusta sama sekali tidak ada pengaruhnya. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 79


Firman-Nya: (Maka kecelakaan yang besarlah …) : Makna kata "Wayl" dalam teks Arabnya adalah "Halâk Wa Damâr" (kebinasaan dan kehancuran)

(bagi orang-orang yang menulis al-Kitab …) : sesuai dengan apa yang dituangkan oleh hawa nafsu mereka. [Zub]

(dengan tangan mereka sendiri…) : yakni mereka mengetahui bahwa hal itu berasal dari diri mereka sendiri. [Zub]

(lalu dikatakannya, 'Ini dari Allah,' ) : Para penulis itu tidak sebatas merubah ataupun menulis apa yang telah dirubah tersebut, mereka malah menyerukan di berbagai momen bahwa 'Ini dari Allah' demi memperoleh tujuan yang sedikit dan imbalan yang hina dengan perbuatan maksiat yang mereka lakukan secara terus menerus itu. [Zub]

{(dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan }

Ayat 80

Firman-Nya: (Dan mereka berkata…): yakni orang-orang Yahudi. [Zub]

('Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.' …) : Dari Ibn 'Abbas bahwasanya orang-orang Yahudi sering mengatakan bahwa umur dunia adalah 7000 tahun dimana pada setiap seribu tahun dari hari-hari di dunia ini, satu hari di antaranya mereka berada di neraka. Ia hanyalah hitungan tujuh hari yang sangat sedikit, kemudian azab itu akan terputus. [Zub]

(Katakanlah,'Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.')

Ayat 81

Firman-Nya: {(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa…} : yakni berupa kesyirikan dan dosa-dosa besar sementara dia belum bertaubat. [Zub]

(dan ia telah diliputi oleh dosanya…) : yaitu barangsiapa yang berbuat seperti apa yang kalian perbuat dan melakukan kekufuran seperti kekufuran yang kalian lakukan hingga kekufurannya meliputi setiap kebaikan yang dilakukannya [Zub]

(mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya)

Petunjuk Ayat
Diantara petunjuk ayat diatas adalah sebagai berikut:

Peringatan keras agar tidak mengeluarkan fatwa-fatwa batil yang mengharamkan hal-hal yang dihalalkan Allah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah, semata-mata agar mencapai tujuan yang bersifat duniawi seperti untuk mendapatkan harta atau kedudukan di sisi penguasa.

Tidak ada gunanya keturunan dan kebangsawanan dan pengukuhan bahwa kebahagiaan manusia adalah seperti kesengsaraannya dimana pangkal kebahagiaan kembali kepada iman dan amal shalih sedangkan pangkal kesengsaraan kembali kepada kesyirikan dan perbuatan maksiat.

Peringatan akan bahaya dosa, baik kecil maupun besar dan upaya untuk menghapuskannya dengan taubat dan amal shalih sebelum ia meliputi dirinya lalu menghalanginya dari bertaubat kepada Allah, na'udzu billah min dzalik. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR. Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah :75-78

"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.[75].

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:"Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata:"Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti?".[76].

Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan.[77].

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. [78]"
{Q,.s.al-Baqarah:75-78}



Makna Ayat Secara Global
Allah Ta'ala mengingkari sikap kaum mukminin yang amat berambisi terhadap berimannya orang-orang Yahudi kepada Nabi dan dien mereka dan mengingatkan mereka akan sisi ketidakmungkinan terealisasinya hal itu mengingat orang-orang Yahudi tersebut, sejak dari nenek moyang hingga generasi setelah mereka sudah dikenal sebagai tukang curang dan tipu. Hal ini terlihat pada perbuatan mereka merubah ucapan dan menggantinya sebagai upaya pengaburan dan penyesatan sehingga tidak ada lagi sisi kebenaran yang ada padanya. Siapa saja yang sedemikian ini kondisinya, maka keterhindaran dirinya dari kemunafikan, dusta dan prilaku menyembunyikan kebenaran akan amat jauh sekali alias mustahil.

Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:'Kamipun telah beriman'." Padahal, apa yang mereka ucapkan ini adalah dusta, dan bila sebagian mereka berada sesama mereka, mereka mengingkari apa yang telah diucapkan mulut sebagian mereka kepada kaum Muslimin bahwa kenabian Rasulullah adalah benar dan bahwa diennya adalah benar. Mereka berkelit bahwa pengakuan seperti ini tentu akan menimbulkan protes kaum Muslimin terhadap mereka dan akan mematahkan hujjah mereka.

Subhanallah! Bagaimana bisa sedemikian rusak perasaan kaum Yahudi ini dan demikian buruk pemahaman mereka sehingga mengira bahwa apa yang mereka sembunyikan bisa juga disembunyikan terhadap Allah.

Maka, Allah Ta'ala berfirman ketika mengutuk sikap hina mereka ini (artinya), Tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan. Diantara kejahilan mereka terhadap kandungan Taurat dan ketidaktahuan mereka akan kebenaran, petunjuk dan nur yang ada di dalamnya, adalah sebagaimana yang diisyaratkan firman Allah (artinya), "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga." Yakni kecuali hanya sekedar membaca saja sedangkan untuk mendalami makna-makna yang konsekuensinya dapat mengenalkan mereka kepada kebenaran, beriman dan mengikutinya, maka tidak satupun jatah mereka di situ (alias mereka tidak akan mungkin melakukannya-red.,). Apa yang mereka katakan dan 'ngalor ngidul'-kan tidak lebih sekedar hipotesa dan dugaan dusta semata.

Makna Ayat Per-Penggalan

AYAT 75


Firman-Nya (artinya),

[Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu…] Yakni, Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan membenarkanmu dan memenuhi panggilanmu.? [Zub]

[padahal segolongan dari mereka mendengar…]

[firman Allah…], Yakni kitab Taurat [Zub]

[lalu mereka mengubahya…] : {Di dalam ayat tersebut diungkapkan dengan kata Yuharrifûnahu -red,.} berasal dari kata Tahrîf, maksudnya menambah beberapa lafazh di dalam taurat, menguranginya atau menggantikan sesuatu darinya dengan yang lain sehingga sesuai dengan kemauan mereka. Diantara bentuk Tahrîf yang mereka lakukan adalah mendengarkan sesuatu dari taurat lantas hal yang halal di dalamnya mereka jadikan haram atau semisal itu. Pokoknya sesuai dengan hawanafsu mereka seperti mengubah sifat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, menjatuhkan hukum hudud (ketentuan Allah yang telah ditetapkan sanksinya) dari para bangasawan mereka. [Zub]

[setelah mereka memahaminya sedang mereka mengetahui?] : Yakni setelah mereka memahaminya melalui akal mereka padahal mereka dalam kondisi mengetahui betul bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah bentuk Tahrîf yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah agar menyampaikan syari'at-syari'atnya sebagaimana adanya. Karena itu, bagaimana mereka (kaum Muslimin) mengharapkan keislaman mereka sementara demikian kondisi mereka yang sebenarnya.?[Zub]

AYAT 76

Firman-Nya (artinya),

[Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman…]: Yakni bahwa orang-orang Munafiqun dari kalangan Yahudi bila berjumpa dengan orang-orang yang beriman… [Zub]

[mereka berkata:"Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja…] : Yakni bila orang-orang yang bukan kelompok munafiqin berada di tengah orang-orang Munafiqin, maka mereka akan berkata kepada mereka seraya menegur (sebagaimana ucapan mereka berikutnya dalam ayat ini-red.,) .[Zub]

[lalu mereka berkata:"Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu…] : Yakni bahwa Dia Ta'ala telah menjatuhkan putusan untuk mengazab mereka. Hal ini terjadi karena ada beberapa orang Yahudi yang telah masuk Islam, kemudian bersikap munafiq. Mereka ini kemudian menceritakan kepada orang-orang yang beriman dari kalangan 'Arab perihal azab yang menimpa nenek-moyang mereka terdahulu. [Zub]

[supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu…] : dengan cara menunjukkan hujjah tersebut. Artinya, janganlah kamu menceritakan kepada mereka perihal azab yang telah Allah putuskan terjadi terhadap kamu sehingga nantinya hal itu menjadi hujjah bagi mereka terhadap kamu. [Zub]

[tidakkah kamu mengerti?"] : Bahaya yang akan terjadi terhadap kamu akibat menceritakan hal tersebut.? [Zub]

AYAT 77

Firman-Nya (artinya),

[Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan] : dari urusan dan ucapan mereka, bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman. Demikian pula, (Allah mengetahui) kekufuran mereka terhadap Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan pendustaan mereka terhadapnya bila mereka berada sesama mereka. [Zub]

AYAT 78

Firman-Nya (artinya),

[Dan di antara mereka ada yang buta huruf…] : Yakni dari kalangan orang-orang Yahudi ada sekolompok orang yang belum belajar menulis dan tidak bisa membaca tulisan. [Zub]

[tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka…] : berkenaan dengan kondisi mereka yang sudah diampuni karena amal-amal shalih yang mereka lakukan atau karena mereka memiliki para pendahulu yang shalih menurut keyakinan mereka.

(Terjemahan 'dongeng-dongeng bohong belaka' di dalam ayat diatas sesuai redaksi aslinya [arab] diungkapkan dengan kata Amâniy. Dalam hal ini, menurut sebuah riwayat maknanya adalah at-Tilâwah, yakni mereka tidak mengetahui apa-apa selain membaca saja tanpa memahami apa yang dibaca tersebut. [Zub]

[dan mereka hanya menduga-duga] : mereka menyengaja untuk menduga-duga hal yang mereka tidak mengetahui selain itu akibat taqlid buta yang biasa mereka lakukan. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah:

Orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling mustahil dapat menerima kebenaran dan tunduk terhadapnya.

Mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya adalah sesuatu yang amat buruk sekali.

Belum tentu setiap orang yang dapat membaca al-Qur'an, pasti memahami semua maknanya apalagi mengetahui hikmah-hikmah dan rahasia-rahasianya di balik itu. Kondisi aktual mayoritas kaum Muslimin merupakan bukti akan statement ini. Orang-orang yang hafal al-Qur'an di tengah mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui makna-maknanya apalagi orang-orang selain mereka yang tidak hafal.

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah :72-74

"Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan, [72].

Lalu Kami berfirman:"Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!". Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti,[73].

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."[74]
{Q,.s.al-Baqarah:72-74}



Makna Ayat Secara Global
Allah Ta'ala berfirman kepada orang-orang Yahudi sembari mengecam mereka, "Ingatlah tatkala salah seorang dari pendahulu kalian membunuh seorang kerabatnya agar dapat mewarisinya, lalu berseterulah masing-masing kelompok mengenai siapa pembunuhnya, masing-masingnya membantah kalau si pembunuhnya berasal dari kalangan mereka. Realitasnya, bahwa Allah pasti akan menampakkan apa yang kalian sembunyikan tersebut, demi menegakkan kebenaran dan membuat malu para pembunuh.

Lalu Dia memerintahkan kalian untuk memukulkan raga si terbunuh (korban) dengan sebagian dari anggota-anggota badan sapi betina tersebut, sehingga dia bisa hidup lagi dan memberitahukan tentang siapa pembunuhnya. Lantas kalian melaksanakan perintah tersebut, lalu Allah menghidupkan si terbunuh dan diapun memberitahukan tentang siapa pembunuhnya, lalu karenanya dia dibunuh olehnya.

Dengan kisah ini, Allah memperlihatkan kepada kalian salah satu tanda dari tanda-tanda yang menunjukkan kelemahlembutan-Nya, ilmu-Nya serta Qudrat-Nya. Seharusnya, kalian memahami ayat-ayat yang diturunkan Allah ini, lantas kalian menyempurnakan keimanan, akhlaq dan keta'atan kalian akan tetapi jangankan melakukannya bahkan hati kalian malah semakin keras dan membatu sehingga menjadi lebih keras daripada batu. Akibatnya, tidak dapat lunak, lembut dan khusyu' lagi.

Ini berbeda dengan kondisi batu itu sendiri yang diantaranya ada yang memancarkan mata air, ada yang lunak sehingga terjatuh penuh rasa takut kepada Allah. Sebagaimana pula halnya bukit Thûr yang runtuh saat Rabb Ta'ala menampakkan diri (dalam kisah Musa) dan sebagaimana bukit Uhud yang terguncang di bawah kedua kaki Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya. Kemudian, Rabb Ta'ala mengancam kalian bahwa Dia tidak pernah lengah terhadap dosa-dosa yang kalian lakukan dan akan membalas kalian dengan balasan yang maha adil, jika kalian tidak bertaubat dan kembali kepada-Nya." [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 72


Firman-Nya (artinya),
[ Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia…]

[lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu…]: yakni kalian berselisih pendapat dan berseteru (masing-masing dari mereka menolak dirinya telah melakukan tindak kriminal itu dan menuduhkannya kepada orang lain); tentang siapa si pembunuh?. [Zub]

[ Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan] : Yakni Allah akan menampakkan apa yang kalian sembunyikan diantara kalian berkenaan dengan masalah pembunuhan tersebut. [Zub]

Ayat 73

Firman-Nya (artinya),
[ Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!"…]: Yakni dengan salah satu dari anggota-anggota badan sapi betina yang mereka sembelih tersebut, lalu mereka memukulkannya, maka Allah menghidupkan si terbunuh itu kembali. [Zub]

[ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati…]: Yakni Allah menghidupkan hal tersebut, sama seperti cara menghidupkan orang-orang yang telah mati ini.

[ dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya…]: Yakni tanda-tandanya dan indikasi-indikasinya yang menunjukkan kesempurnaan Qudrat-Nya; Allah lalu menghidupkan si terbunuh tersebut dan dia pun berbicara dan berkata, "Si fulan lah yang telah membunuhku."

[agar kamu mengerti]

Ayat 74

Firman-Nya (artinya),
[ Kemudian setelah itu…]: Yakni dari setelah Allah perlihatkan kepada mereka bagaimana Dia menjadikan sapi betina itu hidup lagi dan menghidupkan si terbunuh tersebut. [Zub]

[ hatimu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi …]: Yakni kosong dari bertaubat dan tunduk kepada tanda-tanda kebesaran Allah tersebut padahal ada sesuatu yang sebenarnya justeru menuntut sikap yang berlawanan dengan kekerasan hati tersebut, yaitu adanya tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam menghidupkan si terbunuh, bagaimana dia bisa bicara dan menyebutkan siapa pembunuhnya tersebut. [Zub]

[ Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya…]: Kemudian Allah memaklumkan bagi batu dan tidak memaklumkan anak cucu Adam yang durjana. Yakni, sesungguhnya diantara batu-batu itu ada yang lebih lunak dari hati-hati kalian terhadap kebenaran yang kalian diserukan kepadanya. [Zub]

[dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas, adalah:
Kebenaran Nubuwwah Rasulullah, Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam dan penetapannya di hadapan orang-orang Yahudi tatkala beliau memberitahukan kepada mereka hal-hal yang pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka, yang tidak pernah diketahui oleh orang-orang selain mereka. Dan ini merupakan bentuk Iqamatul Hujjah (menegakkan hujjah) kepada mereka.

Menyingkap psikologis orang-orang Yahudi yang ternyata secara turun temurun mewariskan sifat suka merubah perintah-perintah agama, makar dan menipu.

Orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling keras hatinya hingga saat ini dimana setiap tahun mereka selalu menimpakan musibah yang mencelakakan umat manusia, sementara mereka tertawa menyaksikan hal itu.

Diantara tanda-tanda kedurjanaan adalah kekerasan hati. Hal ini seperti bunyi hadits (artinya), "Barangsiapa yang tidak mengasihi maka dia tidak akan dikasihi." (Muttafaqun 'alaih) [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


Surat Al-Baqarah : 67-71

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.' Mereka berkata, 'Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?.' Musa menjawab, 'Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.' [67].

Mereka menjawab, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?.' Musa menjawab, 'sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.' [68].

Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.' Musa menjawab, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.' [69].

Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.' [70].

Musa berkata, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.' Mereka berkata, 'Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.' Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu."[71].
{Q,.s.al-Baqarah:67-71}



Makna Ayat Secara Global
Wahai Rasul Kami (Muhammad), ingatkanlah kepada orang-orang Yahudi tersebut aib lainnya dari aib-aib yang pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka yang selalu mereka banggakan tersebut, yaitu tata krama mereka yang amat jelek terhadap para Nabi mereka sehingga hal ini menjadi cercaan bagi mereka. Semoga saja dengan begitu, mereka sadar dari kesesatan yang tengah mereka lakukan lantas beriman kepadamu dan kepada petunjuk (wahyu) serta Dien al-Haq yang engkau bawa.

Ingatkanlah kepada mereka kisah seorang laki-laki yang dibunuh oleh anak saudaranya (keponakannya) karena tergesa-gesa ingin mendapatkan warisan, kemudian membuangnya ke perkampungan yang bukan daerah asalnya sebagai upaya menghapus jejak, namun manakala mereka berbeda pendapat mengenai si pembunuh, mereka berkata, "Mari kita menghadap Musa dan memintanya berdoa untuk kita kepada Rabb-nya agar menjelaskan siapa si pembunuh tersebut."

Lalu mereka menghadap kepadanya, maka beliau berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi, lalu kalian pukulkan bagian dari anggota badannya ke tubuh si korban agar dia berbicara dan menjelaskan siapa orang yang telah membunuhnya." Tatkala beliau berkata demikian kepada mereka, mereka malah menimpali, "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?." Demikian, mereka lancang memberikan label 'mengejek dan bermain-main' kepada Nabi Allah. Dan ini tentu saja merupakan perbuatan dosa lagi jelek sekali.

Mereka terus bertanya kepada Musa perihal sapi tersebut dan minta persyaratannya terus diperberat, sehingga Allah pun menjadikan persyaratannya semakin berat. Hal inilah yang membuat mereka hampir saja tidak dapat melakukan penyembelihan tersebut padahal bila mereka langsung menerima sapi yang ditawarkan oleh Allah Ta'ala (melalui lisan Musa) dan menyembelihnya tentu sudah cukup (tidak perlu bersusah-payah). Akan tetapi mereka justeru mempersulit dan memperberat beban bagi diri sendiri dengan banyak persyaratan sehingga Allah pun menjadikannya semakin sulit dan berat bagi mereka. Akhirnya, mereka baru memperoleh sapi yang diminta tersebut setelah bersusah-payah dan menghabiskan energi. Setelah pemiliknya menawarkan harga yang mahal dan menjualnya kepada mereka seharga emas yang memenuhi kulit sapi tersebut. [Ays]

Makna Ayat Per-Penggalan

Ayat 67


Firman-Nya (artinya):
{Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina…} : Beliau berkata kepada mereka seperti itu setelah ada salah seorang diantara mereka yang terbunuh dan tidak diketahui identitas pelakunya sehingga mereka mengadukannya kepada Musa sebagaimana akan dibahas pada 4 ayat setelah ini.

{…Mereka berkata, 'Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan? } : Di dalam ayat diungkapkan dengan kata "ejekan" maknanya adalah permainan dan ejekan/sindirian.

{…Musa menjawab, 'Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil} : yakni bagaimana mungkin aku menisbahkan suatu perintah kepada Allah padahal ia tidak pernah diperintahkan oleh-Nya?. Yang melakukan hal ini hanyalah orang Bodoh, sebab merupakan bentuk kesia-siaan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang berakal sehat. [Zub]

Ayat 68

Firman-Nya (artinya):
{ Mereka menjawab, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?…}

{…Musa menjawab, 'sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua…}

{…dan tidak muda…}

{…pertengahan antara itu…} : maknanya adalah yang pertengahan antara dua usia diatas, yaitu sapi yang telah pernah melahirkan satu atau dua anak.

{…maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu}: yakni penyegaran perintah dan sebagai kecaman atas sikap keras kepala mereka. [Zub]

Ayat 69

Firman-Nya (artinya):
{ Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya…} : Ini merupakan pengulangan terhadap bentuk sikap keras kepala mereka yang biasa mereka lakukan. [Maka Musa tidak berkata kepada mereka, "Pertanyaan seperti ini tidak perlu!." Akan tetapi justeru memaksa mereka untuk memenuhi syarat yang lain yang lebih berat, yaitu mendapatkan sapi yang memiliki kriteria seperti itu sebagai bentuk sanksi terhadap sikap keras kepala mereka tersebut].

{Musa menjawab, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning…}

{yang kuning tua warnanya…} : yaitu warna kuning yang amat kuning dan tajam alias kuning tua.

{lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya }: membuahkan rasa senang bila mereka memandangnya karena merasa takjub dan mengagumi warnanya tersebut. [Zub]

Ayat 70

Kemudian mereka tidak juga jera dari kesesatan tersebut bahkan semakin menunjukkan sikap keras kepala sembari berkata, sebagai dalam Firman-Nya (artinya):

{ Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami…} : yakni bahwa jenis sapi seperti yang disebutkan kriterianya tersebut amat samar bagi mereka karena yang memiliki kriteria pertengahan antara kuning dan kuning tua warnanya itu amat banyak. Maknanya, kami tidak mengetahui jenis sapi yang dikehendaki oleh Allah tersebut.

{ dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk } : yakni jika Dia Ta'ala memberitahukannya kepada kami. [Zub]

Ayat 71

Firman-Nya (artinya):
{ Musa berkata, 'Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah…}

{ dan tidak pula untuk mengairi tanaman…} : yakni dia bukan termasuk binatang yang digunakan untuk mengangkut air pengairan bagi tanam-tanaman,

{ tidak bercacat…}

{ tidak ada belangnya…} : yakni sapi ini berwarna kuning polos, tidak ada belangnya satu pun

{ Mereka berkata, 'Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya…} : yakni mereka berkata, "sekarang baru kamu jelaskan kepada kami kriterianya dan hakikatnya

{ Kemudian mereka menyembelihnya…} : Yakni lalu mereka mendapatkan sapi dengan kriteria-kriteria yang diminta tersebut, lantas mereka menyembelihnya dan melaksanakan perintah yang sebenarnya masih lapang tetapi mereka sendiri yang mempersempitnya, yang sebenarnya mudah tetapi mereka sendiri yang mempersulitnya. [ ucapan mereka tersebut juga termasuk bagian dari sikap keras kepala mereka padahal sedari awal kebenaran sudah datang kepada mereka ].

{ dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu} : yakni (karena) tidak adanya sapi yang memiliki kriteria-kriteria seperti itu. Dalam riwayat yang lain ditafsirkan "Karena harganya yang terlalu mahal". Riwayat lainnya, "Karena khawatir kasus pembunuhan tersebut terbongkar."

Dari Abu Hurairah radliyallâhu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Andaikata Bani Israil tidak berkata, 'dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk' ; pasti tidak akan diberi kepada mereka selama-lamanya. Dan andaikata mereka mengambil jenis sapi apa saja lalu mereka menyembelihnya, niscaya (dengan) hal itu, mereka sudah melaksanakan perintah tersebut akan tetapi mereka memperberat diri sendiri sehingga Allah pun menjadikannya semakin berat bagi mereka." [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas, adalah:
Menjelaskan kondisi kaum Nabi Musa, Bani Israil yang demikian keras kepala dan jelek akhlaqnya sehingga kaum Muslimin dapat menghindari watak seperti itu.

Keharaman membantah perintah Allah, kewajiban berserah-diri kepada perintah atau larangan-Nya sekalipun belum/tidak diketahui apa manfa'at dan alasan di balik perintah dan larangan tersebut.

Anjuran agar melakukan perkara yang mudah-mudah (ringan-ringan) dan tidak disukainya sikap Tasyaddud (memberat-beratkan) di dalam semua perkara.

Menjelaskan faedah al-Istitsnâ` (pengecualian) dengan ucapan Insya Allah . Sebab, andaikata orang-orang Yahudi tidak mengucapkan ucapan ini (seperti dalam ayat diatas) niscaya mereka tidak akan mendapatkan hidayah/petunjuk di dalam mengetahui kriteria sapi yang dicari.

Hendaknya menghindari ucapan-ucapan yang dapat dipahami sebagai pelecehan terhadap para Nabi, seperti ucapan mereka ''Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Sebab hal ini dapat dipahami bahwa al-Haq tidak pernah datang kepada para Nabi tersebut kecuali kali ini saja dari sejak sekian lama -na'udzu billâhi min dzâlik-. [Ays]

sumber :
- Tafsir Aysar at-Tafâsîr Li Kalâm al-'Alîy al-Kabîr karya Syaikh. Abu Bakar al-Jazâ`iriy (disingkat: Ays)
- Kitab Zubdah at-Tafsîr Min Fath al-Qadîr karya DR.Muhammad Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar (disingkat: Zub)


zain cho

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget